Rabu sore, aku diajak kakak pergi membeli seekor kelinci,
aku sangat senang karena keiinginanku untuk membeli seekor kelinci akhirnya
terwujud juga.
“Irma
ayo kita pergi membeli kelinci,“ kata kakak.
“Baiklah,“
jawabku sekenanya.
Kemudian
aku dan kakak segera pergi di sana aku melihat kelinci-kelinci yang imut, lucu,
dan mengemaskan. Warna kelincinya beragam, ada yang putih, coklat, hitam, dan
lain-lain. Aku disuruh kakak untuk memilih kelinci yang disukai.
“Ir,
pilihlah satu kelinci yang kamu sukai”,
kata kakak.
Kemudian
aku mondar-mandir memilih kelinci, semuanya bagus, tetapi akhirnya saya memilih
seekor kelinci yang berwarna putih.
“Aku
pilih kelinci yang ini saja, Kak,
kelinci ini imut dan menggemaskan”.
Kemudian kakak membayar kelinci itu kepada si
penjual. Setelah itu aku dan kakak segera pulang. Di rumah Ayah sudah
menyiapkan kandangnya.
“Irma
sebenarnya kelinci itu untuk kamu, untuk hadiah ulang tahunmu dan kakakmu akan
membantu merawat kelinci itu dengan baik,“ kata Ayah.
Setelah
beberapa minggu kemudian aku melihat kakak membawa kelincinya.
“Mau
di bawah ke mana kelinci itu kak?“ tanyaku.
“Kakak
akan membawa kelinci ini ke belakang
rumah, akan kakak lepaskan kelinci ini di sana dan nanti sore akan kakak masukkan kembali ke kandang.“
jawab kakak.
Hari-hari berikutnya kakak kembali melepaskan
kelinci itu di belakang rumah dan saat itu aku yang mendapat tugas memasukkan
kelinci itu ke dalam kandang dan aku memanggil kelinci itu dengan sebutan
manis.
“Manis…dimana
kamu…??? manis…manis….”.
Suatu hari, si manis tidak
muncul-muncul ketika kupanggil.
Aku mencarinya ke mana-mana. Aku
melihat seekor anjing liar yang akan menerkam kelinci itu. Aku segera mengambil
sebuah batu dan segera menghampiri kelinci itu. Aku melihat kelinci itu sudah
mati, lalu aku teriak memanggil kakak.
“Kakak…”
teriakku.
“Ada
apa Ir kok kamu nangis?” tanya
kakak yang segera menghampiriku.
“Kelinci
ini mati kak, tadi waktu aku ingin memasukkan kelinci ini, aku melihat anjing
yang akan menerkam kelinci ini, lalu aku lempari anjingnya dengan batu,” kataku
dengan nada teriak.
“Ya
sudah nanti kakak beliin lagi ya,“ kata Kakak.
“Terima
kasih Kak,” jawabku.
“Iya sama-sama” kata
Kakak.
Setelah itu aku dibelikan kelinci lagi dan aku
berjanji akan menjaga si manis
dengan sebaik-baiknya, aku tidak mau kejadian seperti kemarin terulang lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar