Di pagi yang cerah itu aku bersenandung, dalam
kesendirianku. Burung-burung yang berkicau, udara yang begitu menusuk relung
jiwaku begitu dingin. Aku
duduk dan berbaring dalam hangatnya selimut di dalam kamarku.
Di sebuah keluarga
yang sederhana, penuh dengan canda tawa, duka dan tangis. Kadangkala terdengar jeritan adikku yang
menangis. Di sana aku tinggal bersama keluargaku…aku biasa dipanggil Valen. Nama yang begitu indah, bukan? Aku duduk di kelas 2 SMP
dan bersekolah di SMP Muhammadiyah 10 Turen. Di sana aku begitu senang tinggal
bersama keluarga kecilku itu.
Dan hari ini adalah hari istimewa ku, karena hari
ini adalah hari ulang tahunku yang ke-12 tahun. Tapi aku tak mau merepotkan
keluargaku jadi aku tak meminta apapun kepada kedua orang tua ku. Hanya doalah
yang menyelimuti diri ku.
Tiba-tiba Ayah datang kepadaku sambil memberi
bingkisan yang lumayan besar dan agak berat, Ayah berkata kepadaku.
“Nak
ini hadiah dari Ayah, hati-hati ya jangan dirusakin, karena Ayah tahu ini adalah benda yang
selama ini kamu inginkan. Awas hati-hati mahal ini harganya!”Ayah sambil
tersenyum dan memberikan bingkisan itu kepadaku.
“Apa
ini yah?” (sambil aku goyangkan bingkisannya).
“Loh-loh
jangan digoyang-goyang itu mahal harganya, Ayah uda bekerja keras untuk membeli
benda itu, janga digoyang-goyang dan jangan dikocok-kocok. Nanti kalau itu rusak Ayah
tidak mau membelikannya lagi“ jawab Ayah dengan muka agak kerut.
“Ha..ha..ha..
maaf yah bercanda kok! Memangnya apa sih isi dalam bingkisan ini?” tanyaku sambil membuka
bingkisan itu.
Perlahan-lahan aku buka, dan astaga benda yang aku
inginkan sejak dulu akhirnya terwujud juga. Sungguh aku tidak menyangka.
Ternyata ayah tahu
apa yang selama ini aku inginkan. Senangnya
hatiku ketika kulihat bingkisan itu. Barang itu adalah laptop. Aku senang
sekali punya laptop. Aku
berjanji akan merawat
dan menjaga selalu laptop itu. Aku sangat sayang terhadap laptopku. Setiap aku pulang
sekolah, aku selalu mencarinya dan aku pakai untuk bermain game zuma
kesukaanku.
Pagi sudah menunjukkan pukul 06.30 WIB, aku kesiangan dan
aku buru-buru mandi dan segera berangkat ke sekolah, kerena masuknya pukul
06.45 WIB. Aku marah-marah pada diri sendiri
gara-gara aku tidur terlalu malam. Setelah sampai di sekolah aku lari sekencang
mungkin dan aku juga minta ijin ke TU karena telat. Waktu terus berputar dan
hari sudah menunjukkan pukul 12.30.
Bel sekolah berbunyi 3 kali, itu tandanya pulang. Aku
penuh semangat ketika pulang sekolah, dan tidak sabar untuk bermain laptop
kesayanganku itu.
Sesampaiku di rumah, aku kaget karena laptop yang
biasanya aku taruh di ruang tengah hilang. Aku langsung bertanya ke mama.
“Ma,,,Mama
tau gak laptopku di mana?
Mama cas ya?” sambil melepas kaos kaki.
“Mmmm,,laptop
kamu dijual nak”, jawab Mama sambil ketakutan.
“Mama
jangan bohong ach…jangan bercanda.
Masak aku baru megang 2 bulan kok sudah dijual, lagian itu kan
sudah dikasihkan ke aku,
jadi nggak mungkin laptop itu
dijual. Itu sudah
jadi milikku dan hakku. Sahutku dengan ekspresi marah”.
“Nak,
mama tidak bohong” jawab Mama dengan penuh ketegangan.
Hatiku
berkata, aku tidak percaya kalau laptop itu dijual, mungkin Mama cuma hanya
bercanda. Tapi kenapa tadi Mama bicaranya kok tegang sekali ya. Mama ini kalau bercanda
keterlaluan banget.
Hari sudah sore, tiba-tiba Ayah datang dengan muka
berseri-seri.
“Ayah
kenapa?” tanyaku dengan suara lembut.
“Nak,
maafkan Ayah ya, ayah sudah menjual laptop kamu.
“Ayah
ini bagaimana sih, baru 2 bulan aku memakainya dan aku suka dengan laptop itu.
Kenapa harus laptopku yang Ayah jual? Kenapa Ayah tidak mencari sendiri, Ayah
tahu laptop itu adalah
kesayanganku, Ayah jahat…” sahutku dengan mata berkaca-kaca dan “Gubraakkk”
suara pintu yang kubanting,
rasanya sakit sekali telah
kehilangan benda yang aku sayang.
Saat itu Mama mencoba menghiburku dengan seekor
kucing yang ia bawa, Ibu berkata kepadaku. “Aduh
pusnya lucu sekali, kak…kak…bukakan pintu donk, nich loh, Mama bawain pus
kesayangan kamu…karena aku tidak tega akhirnya kubukakan pintu perlahan-lahan.
“Ini
lho pus kamu sebagai gantinya laptop, pus aja ya”, jawab Mama dengan halus.
“Mama
aku boleh tanya enggak” sambil meneteskan air mata.
“Boleh,
tanya apa nak?”
“Ma,
kenapa sih laptopku kok dijual?”
“Nak
Ayah kamu sakit!” jawab Mama sabil mata berkaca-kaca.
“Sakit
apa ma?” air mataku semakin menetes.
“Ayah
kamu sakit paru-paru basah sudah parah nak”. Mama menangis.
“Ma,
kenapa Mama tidak bilang sejak dulu dan kenapa Mama dan Ayah menyembunyikan
masalah ini, seandainya Mama bilang sejak dulu pasti aku rela dan ikhlas
laptopku dijual. Oh
iya 1 lagi, apakah kakak sudah tau?”
tanyaku.
“Sudah, Nak”, jawab Mama.
Mama mengajakku ke kamarnya dan di situ
ada ayah yang sedang tidur pulas dan aku bertanya lagi kepada Mama, “Ma, Ayah boleh aku
bangunkan?”
“Kamu
mau ngapain Nak, jangan kasihan Ayah, ntar saja kalau Ayah kamu sudah bangun.
“Sssss
sudah ayo keluar!” jawab
mama dengan lirih.
“Iya
Ma”, jawabku sambil pergi meninggalkan
kamar.
Hari semakin larut Ayah bangun dari
tidurnya dan aku mulai bertanya kepada Ayah.
“Yah,
apakah Ayah sakit? Jawab jujur ya Ayah”.
“Iya
nak, Ayah terkena penyakit paru-paru basah. Nak maafin Ayah ya, Ayah sudah
menjual laptop kesayangan kamu”, jawab Ayah sangat lirih sekali.
“Yah,
gak papa kok, aku ikhlas, biarin aja aku kehilangan laptop itu dari pada aku
kehilangan Ayah” jawabku sambil meneteskan airmata.
Aku
tidak tega melihat Ayah, setiap Ayah makan pasti muntah. Akhirnya Ayah ke rumah sakit Islam
Aisyah yang berada di kota Malang. Dan akhirnya Ayah dirawat di rumah sakit
itu, dan sebulan kemudian Ayahku sembuh dari penyakit itu.
“Alhamdulillah,
Ayah sembuh”, jawabku dengan senang sekali.
“Iya
nak, ini berkat kalian semua dan doa kalian.
Terima kasih ya!” saut Ayah
dengan penuh semangat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar