Kenanganku Bersama Laptop Kesayanganku - Valen - Puisi dan Cerpen

Kumpulan Puisi dan Cerpen Karya Anak Bangsa

Breaking

Kamis, 15 November 2018

Kenanganku Bersama Laptop Kesayanganku - Valen



Di pagi yang cerah itu aku bersenandung, dalam kesendirianku. Burung-burung yang berkicau, udara yang begitu menusuk relung jiwaku begitu dingin. Aku duduk dan berbaring dalam hangatnya selimut di dalam kamarku.
Di sebuah keluarga yang sederhana, penuh dengan canda tawa, duka dan tangis. Kadangkala terdengar jeritan adikku yang menangis. Di sana aku tinggal bersama keluargaku…aku biasa dipanggil Valen. Nama yang begitu indah, bukan? Aku duduk di kelas 2 SMP dan bersekolah di SMP Muhammadiyah 10 Turen. Di sana aku begitu senang tinggal bersama keluarga kecilku itu.
Dan hari ini adalah hari istimewa ku, karena hari ini adalah hari ulang tahunku yang ke-12 tahun. Tapi aku tak mau merepotkan keluargaku jadi aku tak meminta apapun kepada kedua orang tua ku. Hanya doalah yang menyelimuti diri ku.
Tiba-tiba Ayah datang kepadaku sambil memberi bingkisan yang lumayan besar dan agak berat, Ayah berkata kepadaku.
“Nak ini hadiah dari Ayah, hati-hati ya jangan dirusakin, karena Ayah tahu ini adalah benda yang selama ini kamu inginkan. Awas hati-hati mahal ini harganya!”Ayah sambil tersenyum dan memberikan bingkisan itu kepadaku.
“Apa ini yah?” (sambil aku goyangkan bingkisannya).
“Loh-loh jangan digoyang-goyang itu mahal harganya, Ayah uda bekerja keras untuk membeli benda itu, janga digoyang-goyang dan jangan dikocok-kocok. Nanti kalau itu rusak Ayah tidak mau membelikannya lagi“ jawab Ayah dengan muka agak kerut.
“Ha..ha..ha.. maaf yah bercanda kok! Memangnya apa sih isi dalam bingkisan ini?” tanyaku sambil membuka bingkisan itu.
Perlahan-lahan aku buka, dan astaga benda yang aku inginkan sejak dulu akhirnya terwujud juga. Sungguh aku tidak menyangka. Ternyata ayah tahu apa yang selama ini aku inginkan. Senangnya hatiku ketika kulihat bingkisan itu. Barang itu adalah laptop. Aku senang sekali punya laptop. Aku berjanji akan merawat dan menjaga selalu laptop itu. Aku sangat sayang terhadap laptopku. Setiap aku pulang sekolah, aku selalu mencarinya dan aku pakai untuk bermain game zuma kesukaanku.
Pagi sudah menunjukkan pukul 06.30 WIB, aku kesiangan dan aku buru-buru mandi dan segera berangkat ke sekolah, kerena masuknya pukul 06.45 WIB. Aku marah-marah pada diri sendiri gara-gara aku tidur terlalu malam. Setelah sampai di sekolah aku lari sekencang mungkin dan aku juga minta ijin ke TU karena telat. Waktu terus berputar dan hari sudah menunjukkan pukul 12.30. Bel sekolah berbunyi 3 kali, itu tandanya pulang. Aku penuh semangat ketika pulang sekolah, dan tidak sabar untuk bermain laptop kesayanganku itu.
Sesampaiku di rumah, aku kaget karena laptop yang biasanya aku taruh di ruang tengah hilang. Aku langsung bertanya ke mama.
“Ma,,,Mama tau gak laptopku di mana? Mama cas ya?” sambil melepas kaos kaki.
“Mmmm,,laptop kamu dijual nak”, jawab Mama sambil ketakutan.
“Mama jangan bohong ach…jangan bercanda. Masak aku baru megang 2 bulan kok sudah dijual, lagian itu kan sudah dikasihkan ke aku, jadi nggak mungkin laptop itu dijual. Itu sudah jadi milikku dan hakku. Sahutku dengan ekspresi marah.
“Nak, mama tidak bohong” jawab Mama dengan penuh ketegangan.
Hatiku berkata, aku tidak percaya kalau laptop itu dijual, mungkin Mama cuma hanya bercanda. Tapi kenapa tadi Mama bicaranya kok tegang sekali ya. Mama ini kalau bercanda keterlaluan banget.
Hari sudah sore, tiba-tiba Ayah datang dengan muka berseri-seri.
“Ayah kenapa?” tanyaku dengan suara lembut.
“Nak, maafkan Ayah ya, ayah sudah menjual laptop kamu.
“Ayah ini bagaimana sih, baru 2 bulan aku memakainya dan aku suka dengan laptop itu. Kenapa harus laptopku yang Ayah jual? Kenapa Ayah tidak mencari sendiri, Ayah tahu laptop itu adalah kesayanganku, Ayah jahat…” sahutku dengan mata berkaca-kaca dan “Gubraakkk” suara pintu yang kubanting, rasanya sakit sekali telah kehilangan benda yang aku sayang.
Saat itu Mama mencoba menghiburku dengan seekor kucing yang ia bawa, Ibu berkata kepadaku. “Aduh pusnya lucu sekali, kak…kak…bukakan pintu donk, nich loh, Mama bawain pus kesayangan kamu…karena aku tidak tega akhirnya kubukakan pintu perlahan-lahan.
“Ini lho pus kamu sebagai gantinya laptop, pus aja ya”, jawab Mama dengan halus.
“Mama aku boleh tanya enggak” sambil meneteskan air mata.
“Boleh, tanya apa nak?”
“Ma, kenapa sih laptopku kok dijual?”
“Nak Ayah kamu sakit!” jawab Mama sabil mata berkaca-kaca.
“Sakit apa ma?” air mataku semakin menetes.
“Ayah kamu sakit paru-paru basah sudah parah nak”. Mama menangis.
“Ma, kenapa Mama tidak bilang sejak dulu dan kenapa Mama dan Ayah menyembunyikan masalah ini, seandainya Mama bilang sejak dulu pasti aku rela dan ikhlas laptopku dijual. Oh iya 1 lagi, apakah kakak sudah tau?” tanyaku. “Sudah, Nak, jawab Mama.
            Mama mengajakku ke kamarnya dan di situ ada ayah yang sedang tidur pulas dan aku bertanya lagi kepada Mama, “Ma, Ayah boleh aku bangunkan?”
“Kamu mau ngapain Nak, jangan kasihan Ayah, ntar saja kalau Ayah kamu sudah bangun.
“Sssss sudah ayo keluar!” jawab mama dengan lirih.
“Iya Ma”, jawabku sambil pergi meninggalkan kamar.
            Hari semakin larut Ayah bangun dari tidurnya dan aku mulai bertanya kepada Ayah.
“Yah, apakah Ayah sakit? Jawab jujur ya Ayah”.
“Iya nak, Ayah terkena penyakit paru-paru basah. Nak maafin Ayah ya, Ayah sudah menjual laptop kesayangan kamu”, jawab Ayah sangat lirih sekali.
“Yah, gak papa kok, aku ikhlas, biarin aja aku kehilangan laptop itu dari pada aku kehilangan Ayah” jawabku sambil meneteskan airmata.
Aku tidak tega melihat Ayah, setiap Ayah makan pasti muntah. Akhirnya Ayah ke rumah sakit Islam Aisyah yang berada di kota Malang. Dan akhirnya Ayah dirawat di rumah sakit itu, dan sebulan kemudian Ayahku sembuh dari penyakit itu.
“Alhamdulillah, Ayah sembuh”, jawabku dengan senang sekali.
“Iya nak, ini berkat kalian semua dan doa kalian. Terima kasih ya!” saut Ayah dengan penuh semangat.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages