Kepala Botak - Siti Nur Faddilah - Puisi dan Cerpen

Kumpulan Puisi dan Cerpen Karya Anak Bangsa

Breaking

Kamis, 15 November 2018

Kepala Botak - Siti Nur Faddilah



Kukkuruyuk…. Kukkuruyuk terdengar kencang suara ayam berkokol dan alunan nyanyian burung di pagi hari, cicicuit…cicicuit yang merdu, alunan itu menandakan hari mulai padi dan sang matahari mulai terbit dari ufuk timur, saat itu ku buka perlahan tirai jendela kamarku, seakan ku tak tega untuk mengedipkan mata karena pesina alam di pagi hari yang sungguh-sungguh istimewa dan seakan ku tak rela tuk melepas nafas yang ku hirup saat ini.
“Tok…tok…Dil, Dhila nak bangun sayang, hari sudah siang, waktunya sekolah nak bangun”. Tegas Ibu dengan suara lembut.
“Emb…iya Bu, aku sudah bangun kok”, sahut aku sambil kebingungan merepikan tempat tidurku.
“Yach…jadi gak bisa menikmati suasana pagi deh…padahal aku kan pengen benget nikmatin saat ini lebih lama, Ibuk ganggu aja dech”, ujarku dalam hati.
Aku lekas membuka pintu dan segera mengambil handuk dan peralatan mandi.
Beberepa saat kemudian, “Hemmm dingin aduh, Buk airnya dingin banget dech hiiiiii”, ujarku sambil gemetaran karena air yang ku pakai mendi sangat dingin.
“Ya sudahlah cepat sana ganti baju sudah siang belum sarapan juga sudah jam berapa itu, sana cepat”, cepat tegad ibu sambil melirik Dhila
“Iya…iya…iya Buk!” sahutku sambil manyun.
            Tak lama kemudian ku mencium harumnya masakan Ibu” emb baunya lezat…Bu…! Masak apa Bu, kok baunya sampek kamarku, enak banget deh kayaknya”, ujar Dhila berteriak dari kamar.
“Makanya cepet sini, cepet sarapan”, sahut Ibu sambil menata sarapan pagi di meja makan.
“Wahhhh….enak tu kayaknya banyak sekali Buk!, wah ada tempe goreng, tahu goreng, sayur rebus, ada sambal dan kerupuk pula, lho ini apa Buk? Ikan yach, wah lengkap banget Buk, makasih ya Bu?” tegas Dhila sambil menikmati masakan Ibu.
“Iya memang sengaja Ibu masak banyak soalnya ayah kemarin dapet tambahan risky dari bosnya”, ujar Ibu sambil tersenyum.
“Bu aku tambah sedikit dong”, pintaku sambil ku dekatkan piringku.
“Bu di utaranya lapangan sepak bila, itu lho waktu aku pulang sekolah biasanya uda sepi bahkan gak ada satupun petani yang ada di sawah”.
“Makanya kalau udah tau gitu kalau waktunya pulang terus pulang gak usah mampir kemana-mana apalagi akhir-akhir ini ibu dengar banyak penculikan dimana-mana. Ibu kampung juga banyak yang ngomongin penculik anak dan biasanya mereka menyebutnya dengan sebutan Mr Botak”.
“Apa Bu” Mr Botak hahahaha.
“Kok Mr Botak sih Bu, lucu dech hehehehe…
“Lho kamu jangan salah Dil, ya betul namanya Mr Botak tapi denger-denger orangnya sangat menyeramkan, badannya besar, kekar kepalanya botak orangnya hitam wah…pokoknya seram Ibu gak bisa bayangin.
“Kalau botak ya tetep saja botak Bu.
“Anak ini kalau dibilangi orang tua”.
“Iya-iya Bu’ iya”. Sahutku sambil menyelesaikan makan pagiku.
“Ya udah Buk, udah jam 6 lebih, aku berangkat dulu ya Bu…
“Assalamualaikum”, tegasku sambil minta salam.
“Iya hati-hati. Waalaikum salam”, sahut Ibu sambil menyodorkan tangannya.
            Di jalan sambil mengayuh sepeda menuju sekolah, aku masih memikirkan tentang Mr. Botak sepert yang Ibu bilang tadi pagi”, pasti orangnya sangat seram deh hiiiii….” Kataku dalam hati.
Sesampainya di sekolah aku disambut gembira oleh teman-temanku. “Hai Dil” sapa Sifa dan Sonia. “Hai” sahutku samba tersenyum. “Tumben sendiri aja lah yang lain mana?” tanya Fera. “Aku tadi ditinggal sama Farida, Triya, Rio dan Marko, mereka duluan gara-gara aku gak muncul-muncul, ia tadi aku masih dengerin cerita ibu sambil makan pagi”. Jelasku karena kedatanganku yang hanya sendirian.
            “Lho emang Ibu kamu cerita apa dil?” tanya Fera sambil menatapku dengan muka penasaran. “Gini lho ceritanya, biasanya kalau aku pulang sekolah kan sepi trus Ibu bilang aku suruh hati-hati gitu lho kan jaman sekarang banyak beredar penculik dimana-mana, Ibu takut kalau ada apa-apa denganku, apa lagi sekarang tau gak siapa penculik anak yang sangat tenar dan jadi buah bibir orang banyak?”, tegasku sambil menatap muka temanku satu-persatu. “Enggak”, jawab Sifa, Sonia dan Fera secara bersamaan.
“Namanya adalah Mr botak!!!”. Tegasku dengan muka sangar.
“Hahahaha ada-ada saja kamu Dil, hahahahaha mana ada penculik botak hahaha!!” mereka bertiga tertawa terbahak-bahak mendengar ceritaku sama seperti saat aku diberi cerita sama ibu.
“Lho ini benar lho kalian jangan salah, penculik itu berkulit hitam tubuhnya besar, kekar, kepalanya botak lagi”. “yang benar kamu Dill”, sahut Erni dengan muka tegang. “iya bener Fa, lagian siapa sih yang ngarang itu aku aja awalnya juga sama seperti kalian tertawa terbahak-bahak namun ku piker tentang badannya yang menyeramkan aku jadi takut…hiiii”, tegasku dengan suara pelan.
Beberapa saat kemudian. Kring…kring…kring…bell pulang sekolah sudah berbunyi, “Wah waktunya pulang”, ujar Fera. “Iya gak nyangka udah waktunya pulang, gak terasa ya, ya Ra, ya udah aku duluan Fer, soalnya aku ada tugas di rumah yang harus aku selesain”, ujarku sambil terburu-buru, “Oh iya Dill ndak papa”, sahut Fera dengan yang lain.
Setelah aku mulai keluar dari kompleks sekolahan, dan mengayuh sepedaku dengan pelan-pelan sekali yang lain sudah duluan di depanku, aku ngak ngerasa kalau rantai sepedaku lepas jadi terpaksa aku turun dan membetulkan, “Aduh sulit banget gimana aku bisa pulang” ujarku dengan pelan penuh kekawatiran.
Seeeettt ada suara orang berhenti di belakangku seorang laki-laki,”Bisa ndak, boleh om bantuin”. “Oh iya Om ini sulit sekali” sahutku”, dengan wajah lega namun tak lama kemudian si Om tadi membuka helmnya dan ternyata Om itu “BOTAK” akupun menjerit keras ketakutan saat melihat orang yang menolongku sama dengan kriteria Mr Botak.
“A…a…a…a…tidak….botak”, jeritku denga penuh rasa takut.
“Tidak…tidak jangan mendekat”, ujarku dengan kasar.
“Lho Om cuma mau bantuin aja dek”, sahut si Om Botak tadi.
“Bener Om gak bermaksud yang lain”, jelasku dengan keras.
“Ya Allah endak dek Om ini niatnya cuma mau nolong adik saja ndak ada yang lain”. Tegas dengan sabar dan tenang.
“Nahh…ni sepedanya sudah bisa dipakek, lain kali hati-hati ya dek”, ujar si Om Botak.
“Iiiiiiya…Om makasih ya”, sahut ku sambil gemetaran ketakutan.
Sesampainya di rumah aku bercerita kepada ibu dan Ibupun tertawa terbahak-bahak karena ternyata om botak itu menolong aku, ternyata gak seperti Mr botak yang diceritakan ibu dan mulai saat itu aku dilarang ibu untuk menilai orang dari parasnya


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages