Kukkuruyuk…. Kukkuruyuk terdengar kencang suara ayam
berkokol dan alunan nyanyian burung di pagi hari, cicicuit…cicicuit yang merdu,
alunan itu menandakan hari mulai padi dan sang matahari mulai terbit dari ufuk
timur, saat itu ku buka perlahan tirai jendela kamarku, seakan ku tak tega
untuk mengedipkan mata karena pesina alam di pagi hari yang sungguh-sungguh
istimewa dan seakan ku tak rela tuk melepas nafas yang ku hirup saat ini.
“Tok…tok…Dil,
Dhila nak bangun sayang, hari sudah siang, waktunya sekolah nak bangun”. Tegas
Ibu dengan suara lembut.
“Emb…iya
Bu, aku sudah bangun kok”, sahut aku sambil kebingungan merepikan tempat
tidurku.
“Yach…jadi
gak bisa menikmati suasana pagi deh…padahal aku kan pengen benget nikmatin saat
ini lebih lama, Ibuk ganggu aja dech”, ujarku dalam hati.
Aku
lekas membuka pintu dan segera mengambil handuk dan peralatan mandi.
Beberepa
saat kemudian, “Hemmm dingin aduh, Buk airnya dingin banget dech hiiiiii”,
ujarku sambil gemetaran karena air yang ku pakai mendi sangat dingin.
“Ya
sudahlah cepat sana ganti baju sudah siang belum sarapan juga sudah jam berapa
itu, sana cepat”, cepat tegad ibu sambil melirik Dhila
“Iya…iya…iya
Buk!” sahutku sambil manyun.
Tak lama kemudian ku mencium
harumnya masakan Ibu” emb baunya lezat…Bu…! Masak apa Bu, kok baunya sampek
kamarku, enak banget deh kayaknya”, ujar Dhila berteriak dari kamar.
“Makanya
cepet sini, cepet sarapan”, sahut Ibu sambil menata sarapan pagi di meja makan.
“Wahhhh….enak
tu kayaknya banyak sekali Buk!, wah ada tempe goreng, tahu goreng, sayur rebus,
ada sambal dan kerupuk pula, lho ini apa Buk? Ikan yach, wah lengkap banget
Buk, makasih ya Bu?” tegas Dhila sambil menikmati masakan Ibu.
“Iya
memang sengaja Ibu masak banyak soalnya ayah kemarin dapet tambahan risky dari
bosnya”, ujar Ibu sambil tersenyum.
“Bu
aku tambah sedikit dong”, pintaku sambil ku dekatkan piringku.
“Bu
di utaranya lapangan sepak bila, itu lho waktu aku pulang sekolah biasanya uda
sepi bahkan gak ada satupun petani yang ada di sawah”.
“Makanya
kalau udah tau gitu kalau waktunya pulang terus pulang gak usah mampir
kemana-mana apalagi akhir-akhir ini ibu dengar banyak penculikan dimana-mana.
Ibu kampung juga banyak yang ngomongin penculik anak dan biasanya mereka
menyebutnya dengan sebutan Mr Botak”.
“Apa
Bu” Mr Botak hahahaha.
“Kok
Mr Botak sih Bu, lucu dech hehehehe…
“Lho
kamu jangan salah Dil, ya betul namanya Mr Botak tapi denger-denger orangnya
sangat menyeramkan, badannya besar, kekar kepalanya botak orangnya hitam wah…pokoknya
seram Ibu gak bisa bayangin.
“Kalau
botak ya tetep saja botak Bu.
“Anak
ini kalau dibilangi orang tua”.
“Iya-iya
Bu’ iya”. Sahutku sambil menyelesaikan makan pagiku.
“Ya
udah Buk, udah jam 6 lebih, aku berangkat dulu ya Bu…
“Assalamualaikum”,
tegasku sambil minta salam.
“Iya
hati-hati. Waalaikum salam”, sahut Ibu sambil menyodorkan tangannya.
Di jalan sambil mengayuh sepeda
menuju sekolah, aku masih memikirkan tentang Mr. Botak sepert yang Ibu bilang
tadi pagi”, pasti orangnya sangat seram deh hiiiii….” Kataku dalam hati.
Sesampainya di sekolah aku disambut gembira oleh
teman-temanku. “Hai Dil” sapa Sifa dan Sonia. “Hai” sahutku samba tersenyum.
“Tumben sendiri aja lah yang lain mana?” tanya Fera. “Aku tadi ditinggal sama
Farida, Triya, Rio dan Marko, mereka duluan gara-gara aku gak muncul-muncul, ia
tadi aku masih dengerin cerita ibu sambil makan pagi”. Jelasku karena
kedatanganku yang hanya sendirian.
“Lho emang Ibu kamu cerita apa dil?”
tanya Fera sambil menatapku dengan muka penasaran. “Gini lho ceritanya,
biasanya kalau aku pulang sekolah kan sepi trus Ibu bilang aku suruh hati-hati
gitu lho kan jaman sekarang banyak beredar penculik dimana-mana, Ibu takut
kalau ada apa-apa denganku, apa lagi sekarang tau gak siapa penculik anak yang
sangat tenar dan jadi buah bibir orang banyak?”, tegasku sambil menatap muka
temanku satu-persatu. “Enggak”, jawab Sifa, Sonia dan Fera secara bersamaan.
“Namanya
adalah Mr botak!!!”. Tegasku dengan muka sangar.
“Hahahaha
ada-ada saja kamu Dil, hahahahaha mana ada penculik botak hahaha!!” mereka
bertiga tertawa terbahak-bahak mendengar ceritaku sama seperti saat aku diberi
cerita sama ibu.
“Lho
ini benar lho kalian jangan salah, penculik itu berkulit hitam tubuhnya besar,
kekar, kepalanya botak lagi”. “yang benar kamu Dill”, sahut Erni dengan muka
tegang. “iya bener Fa, lagian siapa sih yang ngarang itu aku aja awalnya juga
sama seperti kalian tertawa terbahak-bahak namun ku piker tentang badannya yang
menyeramkan aku jadi takut…hiiii”, tegasku dengan suara pelan.
Beberapa saat kemudian. Kring…kring…kring…bell
pulang sekolah sudah berbunyi, “Wah waktunya pulang”, ujar Fera. “Iya gak
nyangka udah waktunya pulang, gak terasa ya, ya Ra, ya udah aku duluan Fer,
soalnya aku ada tugas di rumah yang harus aku selesain”, ujarku sambil
terburu-buru, “Oh iya Dill ndak papa”, sahut Fera dengan yang lain.
Setelah
aku mulai keluar dari kompleks sekolahan, dan mengayuh sepedaku dengan
pelan-pelan sekali yang lain sudah duluan di depanku, aku ngak ngerasa kalau
rantai sepedaku lepas jadi terpaksa aku turun dan membetulkan, “Aduh sulit
banget gimana aku bisa pulang” ujarku dengan pelan penuh kekawatiran.
Seeeettt ada suara orang berhenti di belakangku
seorang laki-laki,”Bisa ndak, boleh om bantuin”. “Oh iya Om ini sulit sekali”
sahutku”, dengan wajah lega namun tak lama kemudian si Om tadi membuka helmnya
dan ternyata Om itu “BOTAK” akupun menjerit keras ketakutan saat melihat orang
yang menolongku sama dengan kriteria Mr Botak.
“A…a…a…a…tidak….botak”,
jeritku denga penuh rasa takut.
“Tidak…tidak
jangan mendekat”, ujarku dengan kasar.
“Lho
Om cuma mau bantuin aja dek”, sahut si Om Botak tadi.
“Bener
Om gak bermaksud yang lain”, jelasku dengan keras.
“Ya
Allah endak dek Om ini niatnya cuma mau nolong adik saja ndak ada yang lain”.
Tegas dengan sabar dan tenang.
“Nahh…ni
sepedanya sudah bisa dipakek, lain kali hati-hati ya dek”, ujar si Om Botak.
“Iiiiiiya…Om
makasih ya”, sahut ku sambil gemetaran ketakutan.
Sesampainya di rumah aku bercerita kepada ibu dan
Ibupun tertawa terbahak-bahak karena ternyata om botak itu menolong aku,
ternyata gak seperti Mr botak yang diceritakan ibu dan mulai saat itu aku
dilarang ibu untuk menilai orang dari parasnya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar