Saya mempunyai sebuah sepeda pancal yang dikasih oleh
kakakku, setelah kurang lebih tiga hari saya mengotak-atik sepeda saya hingga
menjadi sepeda drag. Tiba pada saat hari Sabtu siang saya
menelfon Rama,“Ram
nanti malam datang ya ke rumahku, yow!” “yow tungguen aku! “jawab Rama setelah
malam tiba kira-kira pukul 20.30 Rama bersama teman-teman yang lain datang ke
rumahku.
Sesudah berkumpul kami langsung menuju terminal Dampit, untuk
ikut balapan. Dalam
perjalanan,
kami saling memacu sepeda masing-masing. Pada
saat ada tanjakan yang lumayan tinggi,
Rama tertinggal di belakang.
“Ayo Ram….!” seru Rino. “Oyir….!” sahut Rama semakin
mendekat. Setiba di terminal kita langsung memarkirkan sepeda di pinggir jalan
dan beristirahat setelah beberapa saat ada suara memanggil nama akrabku
“Gel…Dugel…!” akupun langsung mendekatinya.
Ternyata dia teman
lamaku. Ia bernama Arul. “Kamu ke sini dengan siapa?”
tanya Arul. Aku pun menjawab,“Sama teman-teman, memangnya kenapa?” “Ya nggak apa-apa, gimana kalau kita balapan?” tantang Arul.
“Ayo…wani
piro?” Aku pun balik menantang,“30 (tiga puluh) wes. Gimana”, sahut Arul kembali. “Yo wis
tunggu saja aku di start. Aku
mau mengambil sepedaku
dulu,“ jawabku, Arul pun
menungguku di start sedangkan aku mengambil sepedaku menuju start.
Satu…! Dua….! Tiga….! Hitung juri aku pun bergegas memacu
sepedaku dengan penuh semangat “Ayo Gel…!”seru Rino dari kejauhan. Akhirnya
akupun memenangkan balapan itu. Setelah
kami membagi hasil taruhan itu, kita pun beristirahat sebentar di samping
sepeda kami masing-masing. Setelah
kurang lebih 15 menit ada suara tembakan dan mobil satpol PP
“Dor…!dor…!”kami
pun langsung melarikan diri dengan memacu sepeda kami masing-masing. Untung kami bersembunyi di tengah-tengah
persawahan. Setelah itu kami langsung pulang menuju
rumah masing-masing.
Setiba di rumah saya langsung
membuka pintu dan memasukkan sepedaku ke dalam rumah, begitu juga dengan
teman-temanku. Akhirnya aku mengunci pintu
dan langsung tidur lelap.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar