Siang itu Rabu
16-11-2011, aku mendapat SMS
dari Ibu Purwati
untuk mengikuti workshop pendampingan guru dalam pembelajaran menulis sastra
yang bertempat di UMM, tanggal 19-11-2011, pukul 08.30 di ruang Civic Hukum GKB
I lantai 6.
Aku bingung karena temanku bapak Winarno tidak bersedia
ikut dalam acara workshop tersebut. Akhirnya aku minta ijin kepada bapak kepala
sekolah untuk mengajak seorang teman.
Akhirnya diperbolehkan,
aku mengajak bapak Anas, guru BI juga.
Pagi tanggal 19-11-2011, aku bersiap-siap untuk
mengikuti workshop, aku coba hubungi Pak Anas lewat telepon genggam. “Assalamualaikum”. “alaikum salam”, jawab Pak Anas. “Pak Anas tidak lupa
kan? Hari ini…?” tanyaku.
“Oh tidak bu Fitri, saya masih
sarapan, oh iya kalau gitu saya tunggu ya!”
Tepak pukul 07.00 pak anas sudah tiba di rumahku,
dengan mengendarai sepeda BEAT, kami meluncur ke UMM tempat dilaksanakannya
workshop tersebut. Pagi itu jalanan memang ramai, puncak aktivitas masyarakat
pada jam-jam tersebut. Pak Anas begitu gesit memilih jalur-jalur yang tidak
macet.
Namun tetap saja sesekali macet. Setidaknya dengan
keahlian sang sopir kami tidak terjebak kemacetan yang fatal. Tepat di samping
kampus UIN pak anas bertanya, jam berapa sekarang bu…? Aku jawab, jam 07.45..,
oh…masih ada waktu istirahat Bu…iya Pak…aku juga sudah capek. Waktu terus
berjalan akhirnya kampus putih sudah di depan mata. Aku membayangkan betama
ramainya acara nanti, aku akan bertemu banyak teman, dan bisa bertukar pikiran
melalui pengalaman. Kami memarkirkan sepeda, lalu berjalan ke ruang civic hukum
GKB I pak anas bertanya kepada salah satu petugas OB. “mas ruang Civic Hukum
GKI I betul ini ga…? Oh iya pak betul ini, bapak masuk saja. Ia terima kasih.
Jawab kami serempak.
Setelah
itu kami kelantai 6, betapa terkejutnya kami karena ruangan itu masih sepi
tanpa seorangpun di sana. Aku mencari tempat duduk untuk menghilangkan
kegelisahan. Aku lihat raut muka pak anas juga begitu gelisah. Pak Anas berkata,
“Bu” Ibu tidak salah informasikan…? Tidak pak ini lho smsnya…betul sekarang kok
acaranya.
Aku
coba mendinginkan suasana. Pak mungkin pesertanya masih diluar Pak, belum naik.
Aku coba telfon Ibu Purwati ya Pak..? Ya…ya…iya bu, jawab Pak Anas dengan
semangat.
Aku
coba telfon Ibu Purwati sudah tiga kali tidak ada jawaban, aku tak putus asa,
aku telfon lagi. Nah kali ini ada jawaban, Assalamualaikum ini Ibu Purwati…?ia
jawab Ibu Purwati. Kami sudah ada di lantai 6 bu. Ibu Purwati bertanya,“Pakai baju apa…?” “Pakai
baju batik Muhammadiyah”,
jawabku. Iya
bu saya mau naik, akhirnya kami bisa berjumpa dengan Ibu Purwati dan dibawa ke
ruang Civic Hukum dalam hati aku bertanya kok ruangan kecil…? apa cukup ruangan ini
untuk ditempati peserta workshop…? Lama kami menunggu tidak ada peserta yang
datang. Aku tambah bingung kok cuma kami berdua pesertanya. Akhirnya Ibu
Purwati menjelaskan bahwa peserta yang dari Pakis dan Sumber Pucung tidak
hadir. Ternyata yang diundang cuma 3 sekolahan. Aku dan Pak Anas tertawa “Pak
kita peserta workshop privat Pak” kamipun tertawa lagi.
Beberapa menit kemudian datanglah bapak supriadi
beliaulah yang akan menyampaikan atau menjelaskan materi workshop hari ini.
Beliau menjelaskan langkah-langkah menulis cerpen dan kamipun di beri selembar
cerpen dan kami disuruh membaca. Setelah selesai Pak Supri bertanya ada apa
saja di cerpen
tersebut? Aku jawab ada tokoh, dialog, latar, isi cerpen. Pak Supri menjelaskan
materi sastra ini dengan sangat mudah kami pahami. Yang tadinya kami
dag…dig..dug, karena pesertanya cuma dua orang ternyara sangat menyenangkan.
Akhirnya acara ditutup dengan
ucapan Alhamdulillah. Kami berdua mau pamitan. Eeee ternyata kami masih disuruh
tandatangan dan dikasih pengganti transport.
Kamipun ke luar ruangan, kami menuruni tangga dari
lantai 6 ke lantai 1. Dalam perjalanan pulang kami selalu tertawa, karena baru
kali ini kami mengikuti acara workshop yang lucu dan unik dan yang terpenting
sangat menyenangkan. Kami berjalan menuju tempat parkir, dalam hati aku berkata
di mana kegelisahan pasti ada kebahagiaan tadinya kami sempat gelisah di awal
masuk ruangan Civic Hukum. Ternyata di akhir acara kami mencapatkan
kebahagiaan.
Dalam perjalanan pulang aku mengajak pak Anas untuk singgah dulu
ke warung
soto. Selesai makan kamipun cepat-cepat pulang karena hujan mulai turun, kami
memakai jas hujan. Selama
perjalanan pulang memang kurang mengenakkan karena tidak bisa menikmati
keindahan kota malang. Hujan kali ini sangat deras dan di sertai dengan angin
kencang.
Memang musim hujan kali ini sangat serius. Namun
kondisi seperti ini sudah terbiasa dan sudah menjadi langganan setian bulan
November-Desember dan Januari puncak musim hujan. Dengan pelan-pelan kamipun
tiba di kota Turen, akhirnya pada jam 14.00 aku tiba di rumah, sedang pak Anas masih melanjutkan
perjalanannya menuju rumahnya di Dampit, aku pun mandi sholat setelah itu
istirahat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar