Di sore hari aku duduk termenung di depan pintu, aku
melihat alam sekitar yang begitu indah, dan awan tampak bergayut memenuhi
langit. Kelihatannya hujan sebentar lagi turun, aku memandang langit yang
bergitu mendung dan akhirnya turunlah hujan yang begitu deras, lalu aku masuk
ke dalam kamarku.
Aku sangat merindukan Ibu, karena aku teringat
sesuatu di atas meja, yaitu boneka pemberian Ibu waktu aku merayakan ulang tahunku
yang dulu. Aku
memberikan nama boneka itu Hanny. Hanny
adalah boneka kesayanganku, di setiap
tidur, Hanny selalu menemani tidurku.
Aku ingat sekitar lima tahun yang lalu, Ibuku
berkata, “Nak, kejarlah
cita-citamu, raihlah setinggi langit, agar kelak engkau menjadi orang yang
berguna bagi Nusa dan Bangsa. Satu hal yang tidak boleh kamu lupakan yaitu
janganlah gampang berputus asa, selalu dekakatkan diri kepada Allah, dan jauhi
larangannya”. Aku selalu mengingat
kata-kata Ibu.
Beberapa
bulan kemudian Ibuku terserang penyakit paru-paru, akan tetapi Ibu tidak mau
dibawa ke rumah
sakit, padahal seluruh keluargaku sudah sering membujuknya, tetapi Ibu tidak
mau dan lebih memilih dirawat di rumah saudaranya di Dampit. Aku semakin jauh
dari Ibuku, sebulan sekali aku menjenguknya, aku ingin sekali setiap hari berada di sampingnya, tetapi
keadaan sedang tidak memungkinkan.
Aku takut sekali jika Ibu meninggalkanku untuk
selama-lamanya.
Tidak
lupa aku selalu mendoakannya walaupun kami terpisah antara jarak dan waktu.
Empat tahun kemudian, Ibuku sering
sakit-sakitan, penyait itu tidak
kunjung sembuh.
Bukan kesembuhan yang beliau dapatkan,
melainkan penyakit yang bertambah parah. Aku selalu mendoakan Ibu demi
kesembuhannya.
Tetapi Allah berkehendak lain, begitu cepat Ibuku
dipanggil oleh yang maha kuasa, dan hidupku terasa hancur, aku hampir pingsan
setelah mendengar kabar bahwa Ibu telah tiada
dan meninggalkan orang-orang yang sangat menyayanginya. Bahkan nenek juga sakit
setelah mendengar anaknya telah meninggal.
Waktu begitu cepat berlalu, 1 tahun telah terlewati, dan kami juga
telah ditinggalkan nenek ke rahmatullah.
Sejak kejadian itu, jiwaku semakin tersiksa. Hari demi hari, waktu
demi waktu berlalu dengan cepat, aku sekarang lebih sering menyendiri karena
sangat terpukul dengan kejadian itu, dan aku masih belum bisa mengihilangkan
rasa sedih itu. Hanya boneka dan teman-teman di sekolahku yang bisa
menghiburku.
Setiap kali aku melaksanakan ibadah sholat, aku
selalu berdoa dengan khusuk,“Ya
Allah…kenapa engkau begitu cepat memanggil Ibuku untuk kembali kepada-Mu, kenapa ya Allah??
Padahal aku belum bisa membahagiakannya. Aku ingin sekali
membahagiakan kedua orang tuaku, Ibu… maafkan aku, bila selama ini aku kurang
berbakti kepadamu, aku menyesali semua perbuatanku. Tapi apalah dayaku, aku
hanya seorang manusia biasa yang tak luput dari kesalahan, tapi semua itu tak
perlu disesali yang berlalu biarlah berlalu, mungkin ini salah satu cobaan yang
diberikan oleh Allah
kepadaku, untuk menguji kesabaranku dan akan aku terima kenyataan yang ada.
Karena terlalu lama menangis, dan terlarut dalam kesedihan, akhirnya aku pun tertidur pukul
21.00 WIB, dan aku terbangun waktu menunjukkan pukul 01.00 WIB pagi. Aku melaksanakan sholat
tahajud, setelah selesai sholat aku berdoa,“Ya Allah…hanya kepada-Mu hamba meminta
pertolongan. Bukakanlah pintu surga,
tutuplah pintu neraka untuk Ibuku, ampunilah segala dosa-dosaku, jika aku
pernah membuatnya sedih karena perkataanku dan perbuatanku. Ampunilah aku karena aku
kurang berbakti kepadanya selama beliau hidup di dunia.Ya Allah selamatkanlah aku dan
kedua orang tuaku di dunia dan akhirat, kabulkanlah doa-doaku ya Allah…” Selanjutnya aku
berdzikir untuk lebih mendekatkan diri kepada allah, yang telah menciptakan
langit dan bumi beserta seisinya.
Angin pagi berhembus sejuk, kicauan burung semakin
ricuh terdengar, menambah indahnya suasana, akan tetapi tak seindah hati ini.
Aku berdiri di depan jendela kamar, tetapi aku merasa sedih tanpa kehadiran Ibu. Biasanya
di hari libur, aku menghabiskan waktu hanya bersama Ibu akan
tetapi sekarang sudah berbeda. Waktu telah
menunjukkan pukul 09.00 WIB.
Untuk menghilangkan
kejenuhanku, akan pergi bermain ke rumah Fitri. Fitri adalah sahabat
terbaikku waktu masih SD. Dia yang
setia mendengarkan curahan
hatiku. Akhir-akhir ini aku
sering ke rumahnya,
dan tak lupa aku membawa boneka
kesayanganku.
Tetapi semua harus
diakhiri, sekarang
sudah pukul 11.00 WIB, waktunya aku pulang ke rumah dan aku segera
pamitan kepada Fitri, “Fit, aku pulang dulu ya. Kapan-kapan gantian ke rumah dong”, pintaku.
“Ia
kapan-kapan aku ke rumah
kamu!“ jawab Fitri sambil tersenyum.
“Ya
udah deh, assalamualaikum…”,
aku beranjak pergi keluar rumah dan mengambil sepeda.
Sesampainya di rumah, aku
melihat Ayah sedang duduk di ruang tamu, lalu aku menghampirinya.
“Yah,
apakah Ayah tidak
sedih? Kan sekarang tidak ada Ibu lagi?“ tanyaku dengan serius.
“Ibu
memang telah meninggal dan bahkan dikebumikan di tempat
peristirahatannya yang terakhir. Tetapi kita harus tabah dan sabar menghadapi
semuanya dan kita harus selalu mendoakannya“, kata
Ayah menjelaskan sambil memandang wajahku.
“Benar
yah, dan aku akan selalu mendoakan dan tak akan pernah melupakan pesan-pesan
Ibu“ Jawab aku.
“Oh
iya, boneka pemberian Ibu kamu ke mana?“
tanya Ayah.
“Ada
di kamar, Yah, aku simpan dan aku
akan selalu menjaganya“ jawabku.
Hari esok kemudian, aku terbangun dengan wajah
ceria, akan tetapi bonekaku tiba-tiba tidak
ada, aku bingung. Aku mencarinya ke mana-mana dan ternyata bonekaku dibawa
adikku, aku senang sekali boneka itu sudah ditemukan. Aku takut kehilangan
boneka itu, karena boneka itu satu-satunya pemberian dari Ibu yang aku miliki,
betapa berartinya boneka itu buat aku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar