Boneka Pemberian Ibu - Sandi Milani - Puisi dan Cerpen

Kumpulan Puisi dan Cerpen Karya Anak Bangsa

Breaking

Kamis, 15 November 2018

Boneka Pemberian Ibu - Sandi Milani



Di sore hari aku duduk termenung di depan pintu, aku melihat alam sekitar yang begitu indah, dan awan tampak bergayut memenuhi langit. Kelihatannya hujan sebentar lagi turun, aku memandang langit yang bergitu mendung dan akhirnya turunlah hujan yang begitu deras, lalu aku masuk ke dalam kamarku.
Aku sangat merindukan Ibu, karena aku teringat sesuatu di atas meja, yaitu boneka pemberian Ibu waktu aku merayakan ulang tahunku yang dulu. Aku memberikan nama boneka itu Hanny. Hanny adalah boneka kesayanganku, di setiap tidur, Hanny selalu menemani tidurku.
Aku ingat sekitar lima tahun yang lalu, Ibuku berkata,Nak, kejarlah cita-citamu, raihlah setinggi langit, agar kelak engkau menjadi orang yang berguna bagi Nusa dan Bangsa. Satu hal yang tidak boleh kamu lupakan yaitu janganlah gampang berputus asa, selalu dekakatkan diri kepada Allah, dan jauhi larangannya. Aku selalu mengingat kata-kata Ibu.
Beberapa bulan kemudian Ibuku terserang penyakit paru-paru, akan tetapi Ibu tidak mau dibawa ke rumah sakit, padahal seluruh keluargaku sudah sering membujuknya, tetapi Ibu tidak mau dan lebih memilih dirawat di rumah saudaranya di Dampit. Aku semakin jauh dari Ibuku, sebulan sekali aku menjenguknya, aku ingin sekali setiap hari berada di sampingnya, tetapi keadaan sedang tidak memungkinkan. Aku takut sekali jika Ibu meninggalkanku untuk selama-lamanya.
Tidak lupa aku selalu mendoakannya walaupun kami terpisah antara jarak dan waktu. Empat tahun kemudian, Ibuku sering sakit-sakitan, penyait itu tidak kunjung sembuh. Bukan kesembuhan yang beliau dapatkan, melainkan penyakit yang bertambah parah. Aku selalu mendoakan Ibu demi kesembuhannya.
Tetapi Allah berkehendak lain, begitu cepat Ibuku dipanggil oleh yang maha kuasa, dan hidupku terasa hancur, aku hampir pingsan setelah mendengar kabar bahwa Ibu telah tiada dan meninggalkan orang-orang yang sangat menyayanginya. Bahkan nenek juga sakit setelah mendengar anaknya telah meninggal. Waktu begitu cepat berlalu, 1 tahun telah terlewati, dan kami juga telah ditinggalkan nenek ke rahmatullah.
Sejak kejadian itu, jiwaku semakin tersiksa. Hari demi hari, waktu demi waktu berlalu dengan cepat, aku sekarang lebih sering menyendiri karena sangat terpukul dengan kejadian itu, dan aku masih belum bisa mengihilangkan rasa sedih itu. Hanya boneka dan teman-teman di sekolahku yang bisa menghiburku.
Setiap kali aku melaksanakan ibadah sholat, aku selalu berdoa dengan khusuk,“Ya Allah…kenapa engkau begitu cepat memanggil Ibuku untuk kembali kepada-Mu, kenapa ya Allah??
Padahal aku belum bisa membahagiakannya. Aku ingin sekali membahagiakan kedua orang tuaku, Ibu… maafkan aku, bila selama ini aku kurang berbakti kepadamu, aku menyesali semua perbuatanku. Tapi apalah dayaku, aku hanya seorang manusia biasa yang tak luput dari kesalahan, tapi semua itu tak perlu disesali yang berlalu biarlah berlalu, mungkin ini salah satu cobaan yang diberikan oleh Allah kepadaku, untuk menguji kesabaranku dan akan aku terima kenyataan yang ada. Karena terlalu lama menangis, dan terlarut dalam kesedihan, akhirnya aku pun tertidur pukul 21.00 WIB, dan aku terbangun waktu menunjukkan pukul 01.00 WIB pagi. Aku melaksanakan sholat tahajud, setelah selesai sholat aku berdoa,Ya Allah…hanya kepada-Mu hamba meminta pertolongan. Bukakanlah pintu surga, tutuplah pintu neraka untuk Ibuku, ampunilah segala dosa-dosaku, jika aku pernah membuatnya sedih karena perkataanku dan perbuatanku. Ampunilah aku karena aku kurang berbakti kepadanya selama beliau hidup di dunia.Ya Allah selamatkanlah aku dan kedua orang tuaku di dunia dan akhirat, kabulkanlah doa-doaku ya Allah…” Selanjutnya aku berdzikir untuk lebih mendekatkan diri kepada allah, yang telah menciptakan langit dan bumi beserta seisinya.
Angin pagi berhembus sejuk, kicauan burung semakin ricuh terdengar, menambah indahnya suasana, akan tetapi tak seindah hati ini. Aku berdiri di depan jendela kamar, tetapi aku merasa sedih tanpa kehadiran Ibu. Biasanya di hari libur, aku menghabiskan waktu hanya bersama Ibu akan tetapi sekarang sudah berbeda. Waktu telah menunjukkan pukul 09.00 WIB. Untuk menghilangkan kejenuhanku, akan pergi bermain ke rumah Fitri. Fitri adalah sahabat terbaikku waktu masih SD. Dia yang setia mendengarkan curahan hatiku. Akhir-akhir ini aku sering ke rumahnya, dan tak lupa aku membawa boneka kesayanganku.
Tetapi semua harus diakhiri, sekarang sudah pukul 11.00 WIB, waktunya aku pulang ke rumah dan aku segera pamitan kepada Fitri, “Fit, aku pulang dulu ya. Kapan-kapan gantian ke rumah dong”, pintaku.
“Ia kapan-kapan aku ke rumah kamu!“ jawab Fitri sambil tersenyum.
“Ya udah deh, assalamualaikum…”, aku beranjak pergi keluar rumah dan mengambil sepeda.
Sesampainya di rumah, aku melihat Ayah sedang duduk di ruang tamu, lalu aku menghampirinya.
“Yah, apakah Ayah tidak sedih? Kan sekarang tidak ada Ibu lagi?“ tanyaku dengan serius.
“Ibu memang telah meninggal dan bahkan dikebumikan di tempat peristirahatannya yang terakhir. Tetapi kita harus tabah dan sabar menghadapi semuanya dan kita harus selalu mendoakannya“, kata Ayah menjelaskan sambil memandang wajahku.
“Benar yah, dan aku akan selalu mendoakan dan tak akan pernah melupakan pesan-pesan Ibu“ Jawab aku.
“Oh iya, boneka pemberian Ibu kamu ke mana?“ tanya Ayah.
“Ada di kamar, Yah, aku simpan dan aku akan selalu menjaganya“ jawabku.
Hari esok kemudian, aku terbangun dengan wajah ceria, akan tetapi bonekaku tiba-tiba tidak ada, aku bingung. Aku mencarinya ke mana-mana dan ternyata bonekaku dibawa adikku, aku senang sekali boneka itu sudah ditemukan. Aku takut kehilangan boneka itu, karena boneka itu satu-satunya pemberian dari Ibu yang aku miliki, betapa berartinya boneka itu buat aku.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages