Boneka Sahabatku - Nurul Khotimah - Puisi dan Cerpen

Kumpulan Puisi dan Cerpen Karya Anak Bangsa

Breaking

Kamis, 15 November 2018

Boneka Sahabatku - Nurul Khotimah



            Pada suatu pagi yang cerah, Vera berangkat sekolah. Di jalan ia memandangi lingkungan sekitarnya nampak bunga-bunga yang bermekaran dan baunya yang harum. Waktu diperjalanan ia juga bertemu dengan sahabatnya Irma. Mereka adalah murid SMP Swasta, dimana ada Vera disitu ada Irma, Sebaliknya disitu ada Irma pasti ada Vera.
“Hai…Ir pagi”, sapa Vera.
“Hai…pagi juga”, kata Irma.
Setelah cukup lama diperjalanan, akhirnya Vera dan Irma sampai di Sekolah. Mereka langsung duduk di bangku di luar kelas sambil berbincang-bincang.
“O, iya Irma, kita kan sahabatan sudah lama banget tuch, mungkinkan nanti kita akan berpisah?” tanya Vera.
“Aku sendiri juga gak tau, tapi aku juga berfikir kalau kita nanti akan berpisah. Saatnya nanati aku harus, udah dech nggak perlu dibahas lagi”, kata Irma.
“Ada apa sih sebenarnya Ir, sepertinya kamu menyembunyikan sesuatu dari aku”, tanya Vera kepada Irma.
“Nggak ada apa-apa kok Ver, jawab Irma.
Setelah beberapa menit kemudian, bel sekolah berbunyi, kring…kring…kring…”. Semua murid masuk ke dalam kelas, begitupun dengan Vera dan Irma. Bu Musrifah guru Agama masuk ke dalam kelas IX yang tidak lain kelas mereka.
“Assalamualaikum Wr.Wb.”, kata Bu Mus.
“Waalaikum salam Wr. Wb”, jawab semua murid.
“Apa ada yang tidak masuk hari ini “, tanya Bu Musrifah.
“Tidak ada Bu”, kata Ibnu sang ketua ketua kelas
“Anak-anak sekarang ulangan ya”, kata Bu Musrifah.
“Tapi kan belum belajar Bu”. Tanya Ibnu.
“Ya sudah, keluarkan selembar kertas”, kata Bu Musrifah.
Setelah dua jam pelajaran Agama, akhirnya bel istirahatpun berbunyi, “kring…kring…kring…”. Waktu pelajaran Agama tadi, Vera dan Irma hanya diam saja tanpa kata, dan Putripun menghampiri mereka berdua.
“Hai, kalian berdua kenapa sich dari tadi aku perhatikan kok diam saja, kalian lagi mikirin apa sich?” tanya Putri.
“Kita gak mikirin apa-apa kok”, jawab Irma.
“Tapi kalau tidak mikirin apa-apa kok dari tadi diam saja, jangan bohong dech”, kata Vera.
“Emangnya kalau boleh tau, apaan sich yang kalian pikirkan”, tanya Hera.
“Ya, tadi mikirin apakah kita nanti akan berpisah”, kata Irma.
“Kok mikirin berpisah”, kata Hera dan Putri heran mendengar kata Irma.
“Yang pertama maavin gue ya Ver, sebenarnya gue emang akan ninggalin loe”, kata Irma.
“Emangnya loe mau kemana Ir”, tanya Vera yang wajahnya mulai pucat.
“Sebenarnya gue gak mau tau kalau hal ini pasti akan menyakiti perasaan loe Ver”, kata Irma.
“Udah dech Ir, katakan aja!” kata Putri.
“Gue akan pergi ke Surabaya teman-temen”, kata Irma.
“What, Lho akan kesurabaya, apa lho udah gak mau lagi temenan ama kita”, seru Hera.
“Bukannya begitu Her” kata Irma.
“Tiba-tiba bel masuk berbunyi, kring…kring…kring…semua murid kembali mengikuti pelajaran karena guru bahasa Indonesia yakni Pak Hisyam tidak datang. Murid kelas IX tidak ada yang mengajar. Merekapun hanya mengobrol satu sama lain, Vera dan teman lainnya kembali membicarakan yang tadi.
“Jadi loe akan ninggalin gue Ir, sahabat loe sendiri, loe benar-benar udah gak sama seperti dulu saat kita mulai menjalin persahabatan”, kata Vera.
“Tapi gue terpaksa harus ninggalin loe, mungkin ini arti persahabatan kita. Kalau loe mau ninggalin gue silahkan, tetapi ada satu yang harus loe tau Ir. Meskipun loe pergi ke Surabaya, gue tetep menganggap loe sahabat sejati gue kata Vera sambil menangis.
“Makasih Ver, loe benar-benar sahabat gue yang paling baik”, kata Irma sambil memeluk Vera.
            Tiba-tiba bel pulang sekolah berbunyi”, kring…kring…kring…”, keheningan dan kerugian nampak di kelas IX. Merekapun berdoa dan mau pulang. Sebelum Vera pulang, Irma memberi sesuatu sebagai tanda persahabatannya.
“Ver, Ver tunggu dong”, seru Irma.
“Iya, ada apa Ir”, kata Vera.
“Ver, emang gue akan ninggalin loe dan teman lainnya, tetapi gue punya sesuatu untuk loe Ver”, kata Irma.
“Iya ada apa Ir”, tanya Vera.
“Ini adalah tanda persahabatanku kepadamu Ver, boneka berwarna pink ini gue berikan kepada loe karena loe adalah sahabat tebaikku dan gue juga tahu kalau loe suka sekali sama warna pink. Gue harap loe mau menerima boneka ini sebagai loe Ir”, kata Vera.
“Makasih Ver, loe uda mau menerima boneka ini dan gue harap mulai sekarang hingga nanti loe menyukai boneka Ver”, kata Irma.
“Tetapi sebelum loe pergi, ambillah gelangku ini, agar loe tidak melupakan gue Ir”, kata Vera.
“Ia gue akan ambil gelang ini, tetapi loe harus janji tidak akan nglupai gue Ver”, kata Irma.
“Ok, gue janji”, kata Vera sambil tersenyum.
Dan pada akhirnya Vera menyukai boneka yang mulanya dia tidak suka sama boneka. Setiap malam ia selalu bertanya-tanya kepada boneka pemberian Irma.
“Bonekaku, apakah Irma sudah lupa sama aku, soalnya dia nggak pernah ngabarin aku”, kata Vera.
“Padahal kan aku ini sahabatnya dari kecil”, tambah Vera.
“Tiba-tiba setelah Vera mengeluh kepada bonekanya. Handphone Vera berbunyi, “Kring…kring…kring…”, Vera pun segera mengangkat Handphone miliknya.
“Hallo, dengan siapa ya”, tanya Vera.
“Hallo, ini gue Ver gimana kabar loe?” kata Irma.
“Gue baik-baik saja Ir, gue kangen banget sama loe Ir”, kata Vera dengan melonjak kegirangan.
“Gue juga kengen sama loe Ver”, kata Irma dalam telephone.
Setelah cukup lama mereka berbincang-bincang. Irmapun menutup telephonenya, begitu juga dengan Vera, dan mulai sekarang ia memanggil bonekanya “Irma” yaitu sahabatnya sendiri. Menurut Vera boneka adalah sahabatnya, karena boneka telah menemaninya selama ditinggalkan Irma sahabatnya dari dulu hingga sekarang. Selain boneka itu sebagai sahabatnya, Vera juga mengganggap bonekanya adalah hal yang terindah yang pernah ia miliki yang diberi oleh Irma. Bagi Vera sosok Irma tidak akan ia lupakan meskipun waktu memisahkan mereka.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages