Pada suatu pagi yang cerah, Vera
berangkat sekolah. Di jalan ia memandangi lingkungan sekitarnya nampak
bunga-bunga yang bermekaran dan baunya yang harum. Waktu diperjalanan ia juga
bertemu dengan sahabatnya Irma. Mereka adalah murid SMP Swasta, dimana ada Vera
disitu ada Irma, Sebaliknya disitu ada Irma pasti ada Vera.
“Hai…Ir
pagi”, sapa Vera.
“Hai…pagi
juga”, kata Irma.
Setelah
cukup lama diperjalanan, akhirnya Vera dan Irma sampai di Sekolah. Mereka
langsung duduk di bangku di luar kelas sambil berbincang-bincang.
“O,
iya Irma, kita kan sahabatan sudah lama banget tuch, mungkinkan nanti kita akan
berpisah?” tanya Vera.
“Aku
sendiri juga gak tau, tapi aku juga berfikir kalau kita nanti akan berpisah.
Saatnya nanati aku harus, udah dech nggak perlu dibahas lagi”, kata Irma.
“Ada
apa sih sebenarnya Ir, sepertinya kamu menyembunyikan sesuatu dari aku”, tanya
Vera kepada Irma.
“Nggak
ada apa-apa kok Ver, jawab Irma.
Setelah
beberapa menit kemudian, bel sekolah berbunyi, kring…kring…kring…”. Semua murid
masuk ke dalam kelas, begitupun dengan Vera dan Irma. Bu Musrifah guru Agama
masuk ke dalam kelas IX yang tidak lain kelas mereka.
“Assalamualaikum
Wr.Wb.”, kata Bu Mus.
“Waalaikum
salam Wr. Wb”, jawab semua murid.
“Apa
ada yang tidak masuk hari ini “, tanya Bu Musrifah.
“Tidak
ada Bu”, kata Ibnu sang ketua ketua kelas
“Anak-anak
sekarang ulangan ya”, kata Bu Musrifah.
“Tapi
kan belum belajar Bu”. Tanya Ibnu.
“Ya
sudah, keluarkan selembar kertas”, kata Bu Musrifah.
Setelah
dua jam pelajaran Agama, akhirnya bel istirahatpun berbunyi,
“kring…kring…kring…”. Waktu pelajaran Agama tadi, Vera dan Irma hanya diam saja
tanpa kata, dan Putripun menghampiri mereka berdua.
“Hai,
kalian berdua kenapa sich dari tadi aku perhatikan kok diam saja, kalian lagi
mikirin apa sich?” tanya Putri.
“Kita
gak mikirin apa-apa kok”, jawab Irma.
“Tapi
kalau tidak mikirin apa-apa kok dari tadi diam saja, jangan bohong dech”, kata
Vera.
“Emangnya
kalau boleh tau, apaan sich yang kalian pikirkan”, tanya Hera.
“Ya,
tadi mikirin apakah kita nanti akan berpisah”, kata Irma.
“Kok
mikirin berpisah”, kata Hera dan Putri heran mendengar kata Irma.
“Yang
pertama maavin gue ya Ver, sebenarnya gue emang akan ninggalin loe”, kata Irma.
“Emangnya
loe mau kemana Ir”, tanya Vera yang wajahnya mulai pucat.
“Sebenarnya
gue gak mau tau kalau hal ini pasti akan menyakiti perasaan loe Ver”, kata
Irma.
“Udah
dech Ir, katakan aja!” kata Putri.
“Gue
akan pergi ke Surabaya teman-temen”, kata Irma.
“What,
Lho akan kesurabaya, apa lho udah gak mau lagi temenan ama kita”, seru Hera.
“Bukannya
begitu Her” kata Irma.
“Tiba-tiba
bel masuk berbunyi, kring…kring…kring…semua murid kembali mengikuti pelajaran
karena guru bahasa Indonesia yakni Pak Hisyam tidak datang. Murid kelas IX
tidak ada yang mengajar. Merekapun hanya mengobrol satu sama lain, Vera dan
teman lainnya kembali membicarakan yang tadi.
“Jadi
loe akan ninggalin gue Ir, sahabat loe sendiri, loe benar-benar udah gak sama
seperti dulu saat kita mulai menjalin persahabatan”, kata Vera.
“Tapi
gue terpaksa harus ninggalin loe, mungkin ini arti persahabatan kita. Kalau loe
mau ninggalin gue silahkan, tetapi ada satu yang harus loe tau Ir. Meskipun loe
pergi ke Surabaya, gue tetep menganggap loe sahabat sejati gue kata Vera sambil
menangis.
“Makasih
Ver, loe benar-benar sahabat gue yang paling baik”, kata Irma sambil memeluk
Vera.
Tiba-tiba bel pulang sekolah
berbunyi”, kring…kring…kring…”, keheningan dan kerugian nampak di kelas IX.
Merekapun berdoa dan mau pulang. Sebelum Vera pulang, Irma memberi sesuatu
sebagai tanda persahabatannya.
“Ver,
Ver tunggu dong”, seru Irma.
“Iya,
ada apa Ir”, kata Vera.
“Ver,
emang gue akan ninggalin loe dan teman lainnya, tetapi gue punya sesuatu untuk
loe Ver”, kata Irma.
“Iya
ada apa Ir”, tanya Vera.
“Ini
adalah tanda persahabatanku kepadamu Ver, boneka berwarna pink ini gue berikan
kepada loe karena loe adalah sahabat tebaikku dan gue juga tahu kalau loe suka
sekali sama warna pink. Gue harap loe mau menerima boneka ini sebagai loe Ir”,
kata Vera.
“Makasih
Ver, loe uda mau menerima boneka ini dan gue harap mulai sekarang hingga nanti
loe menyukai boneka Ver”, kata Irma.
“Tetapi
sebelum loe pergi, ambillah gelangku ini, agar loe tidak melupakan gue Ir”,
kata Vera.
“Ia
gue akan ambil gelang ini, tetapi loe harus janji tidak akan nglupai gue Ver”,
kata Irma.
“Ok,
gue janji”, kata Vera sambil tersenyum.
Dan pada akhirnya Vera menyukai boneka yang mulanya
dia tidak suka sama boneka. Setiap malam ia selalu bertanya-tanya kepada boneka
pemberian Irma.
“Bonekaku,
apakah Irma sudah lupa sama aku, soalnya dia nggak pernah ngabarin aku”, kata
Vera.
“Padahal
kan aku ini sahabatnya dari kecil”, tambah Vera.
“Tiba-tiba
setelah Vera mengeluh kepada bonekanya. Handphone Vera berbunyi,
“Kring…kring…kring…”, Vera pun segera mengangkat Handphone miliknya.
“Hallo,
dengan siapa ya”, tanya Vera.
“Hallo,
ini gue Ver gimana kabar loe?” kata Irma.
“Gue
baik-baik saja Ir, gue kangen banget sama loe Ir”, kata Vera dengan melonjak
kegirangan.
“Gue
juga kengen sama loe Ver”, kata Irma dalam telephone.
Setelah cukup lama mereka berbincang-bincang.
Irmapun menutup telephonenya, begitu juga dengan Vera, dan mulai sekarang ia
memanggil bonekanya “Irma” yaitu sahabatnya sendiri. Menurut Vera boneka adalah
sahabatnya, karena boneka telah menemaninya selama ditinggalkan Irma sahabatnya
dari dulu hingga sekarang. Selain boneka itu sebagai sahabatnya, Vera juga
mengganggap bonekanya adalah hal yang terindah yang pernah ia miliki yang
diberi oleh Irma. Bagi Vera sosok Irma tidak akan ia lupakan meskipun waktu
memisahkan mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar