Udah
dua tahun berlalu dan belum ada perubahan sama sekali terhadap Nia, dia masih
saja mengurung diri di kamar entah apa yang dilakukannya selama ini di dalam
kamar yang lumayan besar dan mewah itu, tidak ada seorang pun yang tahu bahkan
kedua orang tua Nia dan keluarganya tidak ada yang pernah masuk ke dalam
kamarnya. Sampai dengan hari itu, hari dimana aku dan Nia dipertemukan.
“Tok…tok…tok…,
terdengar suara ada seseorang yang mengetuk pintu kamarku,” ujar Nia, “siapa?”
jawab Nia dengan ketus dan cuek. “ini mama Nia, coba buka pintunya sebentar,”
pinta mama dengan nada yang lembut, Nia pun bergegas bangun dari kasur dan
berniat untuk membukakan pintu untuk mamanya. Yaa, Nia bakalan mau membuka
kamar dan keluar dari kamarnya jika ada yang mengetoknya terlebih dahulu, jika
tidak ada maka kemungkinan Nia keluar dan membuka pintu kamarnya sangatlah
kecil, banyak yang bertanya sebenarnya ada apa dengan Nia, dia berubah sangat
drastis dan bahkan teman terdekatnya pun tidak ada satu orangpun yang tahu
alasan mengapa Nia berubah. Nia mengalami tekanan batin yang lumayan parah
karena kejadiannya beberapa tahun lalu dengan kekasihnya membuat Nia merasa
bahwa semua pria sama saja, tidak ada yang berbeda Nia selalu berfikir bahwa
pria adalah makhluk Tuhan yang paling jahat yang tidak mempunyai hati nurani,
yang hanya memikirkan dirinya sendiri saja. Ya, itu adalah pria dimata Nia.
“eh,
mama ada apa,?” Nia pun membukakan pintu kamarnya sambil menanyakan ke mamanya
ada apa dia memanggilnya dengan nada ketus dan muka yang datar, Nia membuka
percakapan mereka, “temenin mama yuk neng, mama mau ke took kelontong di Zamrud
disini banyak barang yang harus kita beli” ujar mama Nia, “aku amat males hari
ini, bagaimana kalau mama pergi sendiri saja,” ujar Nia, “ayolah neng udah lama
kita gak keluar bareng lagi, mama pengen banget keluar sama Nia lagi,” tutur
mama dengan nada lembut dan memohon agar Nia mau ikut. “umm…baiklah ma aku
ikut, yaudah aku mandi dulu,” ujar Nia. Mama Nia pun sangat senang karena sudah
hampir dua tahun putri semata wayangnya hanya terdiam di kamar, Nia pun
bergegas mandi dan siap-siap, tidak lama kemudian tanpa dipanggil oleh sang
mama Nia keluar dari kamarnya dan membuat mamanya berkesan. Tante Rina alias
mama Nia tidak menyangka bahwa anak gadisnya tampak begitu sangat dewasa dan
mirip sekali dengan dia dimasa muda. “ma…mamah…aku sudah siap nih, katanya mau
keluar,’ ujar Nia sambil perlahan masuk ke kamar mamanya yang kebetulan saat
itu tidak terkunci. “eh, Nia udah selesai siap-siapnya, kalau begitu kita
berangkat yuk, keburu panas,” ujar mama, “yaudah ayuk ma,” jawab Nia, kali ini
Nia menjawab dengan nada yang hangat tidak ada kemarahan dan kebencian hari
itu.
Di
jalan menuju toko, mama dan Nia berbincang lumayan banyak di dalam mobil.
Perlahan-lahan tante Rina memancing Nia agar dia mau terbuka seperti dulu lagi.
“udah lumayan lama ya kita tidak pernah berbincang lagi,” ujar mama Nia.
“umm…iya,” jawabnya singkat dengan sedikit senyuman diwajahnya. “Gimana kalau
habis belanja kita makan bakso di tempat biasa?” lanjut mama Nia, “umm…terserah
mama aja Nia ikut” balas Nia. Memang tidak banyak yang mereka bicarakan, tetapi
aku yakin mereka sangat ingin membicarakan banyak hal hanya saja mereka tidak
tahu kenapa mereka saling membisu satu sama lain. Tidak membutuhkan waktu lama
untuk menuju toko, akhirnya Nia dan mamanya tiba, awalnya aku hanya melihat
seorang wanita lajang sendirian turun dari mobil, lalu wanita tersebut
menghampiriku yang kebetulan hari itu sedang berada di luar toko.
“Permisi
akang…,” sapa mama Nia memulai pembicaraan kami, ya benar memang mama Nia
adalah orang asli Jakarta, ibunya asli Tanggerang Banten sedangkan ayahnya asli
Pemalang. Mama Nia merupakan super woman
dia membesarkan Nia dan satu adik laki-lakinya seorang diri, mangkanya mama Nia
sangat sedih ketika melihat perubahan Nia yang sangat drastis, Mama Nia baru
memulai hidup baru dengan om Malik dan baru saja pindah rumah. “Enya indung
naon eta?(ada yang bisa saya bantu),” jawabku singkat dan ramah tamah. Aku
memang bukan asli Sunda atau Jawa, tetapi aku bisa sedikit berbahasa sunda,
namaku handito handika putra aku asli Padang Sumatra Barat, aku bekerja di
salah satu toko milik omku di dukuh Zamrud. Aku baru saja merantau 3 bulan di
Jawa. Mamaku asli Padang sedangkan ayahku asli Sunda, mereka sudah berpisah
lama dan sekarang mamaku sudah bersanding dengan orang asli Padang.
“Akang
ada mejikom, almari, rak piring sama sen…,” belum selesai berbicara, pertanyaan
mama Nia langsung saja ku sambar, “oh, jelas ada ibu, manga lebetkeun Devi,”
sahutku dengan senyum. “Si akang orang belum selesai ngomong udah disambar
bae,” jawab mama Nia, mama Nia orangnya asik jarang aku menemui orang tua
seperti dia. “Hehehe…say amah sudah tau pasti the pertanyaannya itu lagi,” jawab
saya sambil berbincang saya dan mama Nia menawar harga barang taj sekalipun aku
menawarkan pilihan yang bagus untuk mama Nia, sekitar 20 menit berlalu saya dan
mama Nia berbincang dan bercanda lama, lali kemudian mama Nia menanyakan sebuah
alamari ke saya, dia menanyakan alamri yang berbentuk atau bertemakan Doraemon.
“Kang ada lemari? Tanya mama Nia, “oh, iya tentu ada dong mau yang model apa?
Jawab saya dengan ramah, “yang Napoli kalau ada yang gambar doraemon kang,”
jawab mama Nia sambil jalan keliling melihat-lihat suasana toko. “Doraemon
adanya yang model seperti ini ibu,” ujar saya sambil masuk ke salah satu lemari
bertema doraemon pintaan mama Nia. “Tinggal yang seperti ini saja ya kang?”
Tanya mama Nia. “Iya ibu tinggal yang seperti ini saja” jawabku dengan senyuman
manis yang menawan, “yaudah sebentar ya kang saya Tanya anak saya dulu” ujar
mama Nia. Mama Nia pun pergi beranjak menuju mobilnya gak lama kemudian mama
Nia kembali dengan seorang anak gadis yang tinggi, berkulit agak putih berambut
panjang yang pirang, itu adalah Nia dia anak kedua tante Rina, kakaknya
meninggal beberapa tahun lalu karena kecelakaan pesawat terbang. Nia datang
dengan mimik muka yang datar seperti memendam sesuatu yang cukup berat baginya,
perlahan Nia dan mamanya memasuki tokoku. “Adanya yang kayak gini neng, mau?”
Tanya mama Nia, “terserah mama aja deh,” jawab Nia singkat, saat itu Nia
mengenakan baju berwarna biru dan selalu menggenggam ponselnya ditangannya tak
lupa juga dengan earphone yang ia letakkan di lehernya. Awalnya aku berfikir
kalo Nia adalah anak yang sedang terkena penyakit keras, karenamukanya yang
pucat dan badannya yang kurus.
“Jangan
terserah dong, nanti dibeliin yang ini gak suka,” ujar mama Nia.
“Coba
yang model lain,” ujar Nia.
“Ada
yang lain kang? Tanya mama Nia.
“Ada
bu tapi bukan Doraemon,” jawabku singkat.
“Yaudah
deh ma kita nunggu barangnya ada aja baru beli lagi” ujar Nia kali ini dia
menjawab dengan senyuman khasnya, ntah kenapa pas pertama kali melihatnya
senyum, rasanya adem banget hehehe… melihat Nia senyum kayak ada yang berbeda
dari dia, senyumannya tidak seperti wanita-wanita lain yang pernah dekat
denganku, cara bicaranya yang lembut menyirikan dia adalah gadis yang pendiam
dari sekian banyak gadis yang ku kenal kenapa baru kali ini.
“Kira-kira
barangnya kapan datang kang? Tanya mama Nia.
“Mungkin
beberapa hari lagi bu,” ujarku.
“Ya
udah deh gak papa,” jawab Nia.
“Ya
udah nanti kalau barangnya datang saya kabari deh,” jawabku kea rah Nia.
“Tukeran
aja nomornya biar gampang ngabarinnya,” ujar Uda, Uda adalah kakak dari ayahku
aku bekerja di toko miliknya.
“Wah
boleh nih,” jawab mama Nia.
“Wah
ini mah ntar emaknya yang tukeran WA,” goda Uda kepada mama Nia, uda dan mama
Nia pun bercanda gurau sedangkan aku dan Nia berbincang yaa walaupun gak
banyak, aku ingin sekali meminta info kontaknya tapi rasanya malu banget,
akhirnya aku memberanikan diri.
“Suka
Doraemon ya,?” tanyaku.
“Iya
suka banget,” jawab nia sambil tersenyum.
“Nanti
deh kalau ada dikabari lagi” ujarku ke Nia. Aku pun memberanikan diri untuk
meminta WA/info kontaknya.
“Nanti
kalau ada ngabarinnya kemana?” tanyaku aku sih berharap langsung memberikanku
info kontaknya.
“Hubungin
kesini saja, D755DEF,” katanya.
Yaampun
senangnya bukan main, saat dia ngasih info kontaknya ke aku tanpa berpikir
panjang akupun menyimpannya. Waktupun berlalu dengan cepat, mamanya mengajak
Nia pulang. Sampai sore haripun aku masih menunggu notif dari dia tapi belum ada, hari ini aku berniat mengunjungi
kakakku dibanding tiga hari aku disana dan masih belum ada kabar dari Nia,
mungkin Nia memang tidak tertarik padaku, pikirku. Tiga hari berlalu, sore hari
nanti aku berniat balik ke Bekasi karena harus melanjutkan pekerjaanku,
iseng-iseng aku bikin status yang awalnya hanya iseng dikomen sama Nia. Awalnya
aku tidak tahu kalau itu dia, tiba-tiba saja hapeku getar ada notif dan mulai
saat itulah kami dekat Cuma butuh tiga hari pendekatan kami pun lanjut pacaran
dan banyak sekali perubahan Nia yang terlihat, dia banyak ketawa sering keluar
kamar, suka membantu masak dan lain-lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar