Angin pagi berhembus sejuk membawa sisa-sisa embun
yang menari-nari di dedaunan. Kicauan burung semakin riuh terdengar. Di ufuk
timur, perlahan mentari keluar untuk menyinari bumi. Betapa setianya mentari
seakan tak pernah mengeluh dengan apa yang dilakukannya.
Pagi ini aku sudah siap-siap untuk berangkat sekolah,
seperti biasanya aku hanya memandangi lukisan yang ada di dinding kamar aku,
lukisan itu pemberian dari sahabat aku. Sebenarnya
aku tidak suka lukisan itu, karena
bukan tipe aku banget. Lukisan
itu pemberian sahabatku
sekaligus masih saudaraku
sendiri, makanya aku pasang lukisan itu di dinding kamar aku. Saat ia memberi
lukisan itu, rasanya aku ingin membuang lukisan itu. Tapi bagaimana
perasaannya jika dia tahu
kalau aku ingin membuang lukisan itu,
tapi…ya sudahlah biarkan saja lukisannya di dinding kamar aku.
Nanti sepulang sekolah biar aku buang saja. Seandainya saja ia ada di sini pasti aku akan
kembalikan lukisan ini. Tapi sayang, ia tidak lagi tinggal
di rumah neneknya. Tetapi ia sudah pulang ke rumah orang tuanya setahun yang
lalu.
Tidak terasa hari sudah mulai siang aku pun harus berangkat ke
sekolah, tiba-tiba neneknya bertanya
padaku,“Kamu berangkat sekolah
apa gak?” Aku pun menjawabnya ”Iya, aku
mau berangkat sekolah”. Nenekpun menjawab sambil duduk di kursi ruang makan “Ya
sudah kalau begitu cepat berangkat, sudah siang. Ton,
antar adikmu berangkat sekolah”, bilang nenek pada kak
Anton. “Ya
bentar lagi”, sahut kak Anton. Aku pun agak mendesak kak Anton agar lebih cepat
karena hari sudah semakin siang. “Lama
banget sih, ayo sudah siang
ni…?”.
Iya-iya
sabar sedikit kenapa sih?” jawab kak Anton sambil tergesa-gesa.
Akupun berangkat sekolah dan diantar kakakku.
Setelah tiba di sekolah aku pun langsung menuju kelas dan menemui
teman-temanku. Ternyata sudah banyak yang datang.
Tidak lama kemudian belpun berbunyi tanda pelajaran akan segera dimulai, pak Andi pun masuk ke kelas
dan memberi tugas melanjutkan merangkum
PPKN minggu lalu.
“Melanjutkan
merangkum minggu lalu”,
kata pak Andi.
Dua jam telah berlalu bel pun telah berbunyi itu
menandakan ganti pelajaran. Pak
Andi pun keluar kelas
dari kelas kami.
Aku berpikir
apakah aku harus membuang lukisan itu apa tidak, tidak sengaja aku melamun
dan tidak mendengarkan guru menerangkan pelajaran.
Tiba-tiba ada yang
mengagetkanku dari belakang. “Hei mikirin apa
hayo…???” ternyata Atus
mengagetkanku dari belakang. Aku pun
menjawab pertanyaannya dengan agak gugup. “Anggap
mikirin apa-apa”.
“Jangan
bohong deh, kelihatan dari mata kamu???” bantah Atus.
“Sss...
jangan berisik kalau nanti
pak Slamet tahu nanti dimarahi lho???” sahut Nining.
“Iya-iya”, jawabku dengan agak
kesal.
Satu jam telah berlalu bel pun berbunyi itu menandakan waktunya
istirahat pun telah tiba. Pak Slamet pun keluar dari kelas kami dan mengucapkan
salam kami pun menjawab salam Pak Slamet.
Saat istirahat,
aku, Sandy, Atu, Dita dan Eli bersama-sama pergi ke kantin membeli makanan
ringan. Setelah selesai membeli makanan ringan kami kembali ke kelas. Tiba-tiba
Atus bertanya padaku tentang kejadian tadi pagi ketika kami hanya berdua di kelas.
“Fi, emangnya kamu tadi
mikirin apa?? Kalau
ada masalah cerita dong, mungkin saja aku bisa bantu “tanya Atus dengan serius.
“Sebenarnya
aku bingung, apakah aku harus membuang lukisan itu atau tidak, karena aku tidak
suka lukisan itu “ aku pun menjawab.
“Memangnya
kenapa dengan lukisan itu” tanya Atus.
“Sebenarnya
tidak kenapa-kenapa tapi aku cuma gak suka”.
“Apakah
lukisan itu jelek?”
“Tidak
juga, rasanya aku ingin sekali membuang lukisan itu, tapi tidak mungkin aku
membungnya karena lukisan itu pemberian dari sahabat lamaku. Menurut kamu
gimana???”
“Jangan
dibuang, karena lukisan lukisan itu sangat berarti bagi sahabat kamu?”
“Kenapa
aku tak boleh
membuangnya?“ jawabku agak serius.
“Karena
lukisan itu dari sahabat kamu makanya kamu harus bisa menjaga lukisan itu”, kata Atus.
“Kan
aku tidak suka lukisan itu?”
“Begini ya Fi.? Kan kamu dikasih barang/lukisan sama
sahabat kamu itu, kamu pun harus bisa menjaga barang itu dengan baik, jangan
malah kamu buang walaupun lukisan itu jelek, bagus atau bukan tipe kamu. Karena
barang/omongan yang dikasih
kepada kita, itu merupakan amanah yang harus dijaga begitu Fi…”, nasihat Atus.
“Oh
ia aku ngerti sekarang, berarti aku harus menjaga barang itu dengan baik.
“Ia
Fi..”
“Terima
kasih atas sarannya” aku pun
berterima kasih pada Atus karena dia aku baru sadar
akan hal itu. Aku sangat merasa
bersalah karena
aku sudah hampir membuang lukisan itu.
“Iya sama-sama, sebagai
teman juga harus saling bantu” jawab Atus.
Aku
sadar kalau aku harus menjaga lukisan itu biarpun lukisan itu bukan tipe aku
untuk saat ini. Tapi mungkin suatu hari nanti aku akan suka lukisan itu. Terima
kasih Tuhan karena aku tahu jalan keluar
permasalahan ini. Melalui temanku sendiri, untunglah aku belum membuang lukisan
itu.
Bel berbunyi.
Semua teman-teman masuk ke dalam
kelas dan pelajaranpun dimulai. Waktu
pulang pun telah tiba. Sampai di rumah, aku langsung ambil
wudu’ untuk sholat dzuhur. Setelah sholat dzuhur aku memandangi lukisan itu,
aku berjanji tidak akan membuang lukisan itu dan mulai sekarang lukisan itu
adalah benda kesayanganku sampai akhir hayatku nanti. Menjelang ashar aku pun
langsung mandi dan pergi ke masjid untuk sholat berjamaah. Usai setelah sholat
berjamaah ashar aku pun pulang. Semakin lama, hari semakin sore matahari pun
kembali ke barat
burung-burung berterbangan pulang ke sarangnya dengan tergesa-gesa sambil
berkotek memanggil anaknya masuklah ayam ke kandang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar