Lukisan - Lutfi Lisnawati - Puisi dan Cerpen

Kumpulan Puisi dan Cerpen Karya Anak Bangsa

Breaking

Kamis, 15 November 2018

Lukisan - Lutfi Lisnawati



Angin pagi berhembus sejuk membawa sisa-sisa embun yang menari-nari di dedaunan. Kicauan burung semakin riuh terdengar. Di ufuk timur, perlahan mentari keluar untuk menyinari bumi. Betapa setianya mentari seakan tak pernah mengeluh dengan apa yang dilakukannya.
Pagi ini aku sudah siap-siap untuk berangkat sekolah, seperti biasanya aku hanya memandangi lukisan yang ada di dinding kamar aku, lukisan itu pemberian dari sahabat aku. Sebenarnya aku tidak suka lukisan itu, karena bukan tipe aku banget. Lukisan itu pemberian sahabatku sekaligus masih saudaraku sendiri, makanya aku pasang lukisan itu di dinding kamar aku. Saat ia memberi lukisan itu, rasanya aku ingin membuang lukisan itu. Tapi bagaimana perasaannya jika dia tahu kalau aku ingin membuang lukisan itu, tapi…ya sudahlah biarkan saja lukisannya di dinding kamar aku. Nanti sepulang sekolah biar aku buang saja. Seandainya saja ia ada di sini pasti aku akan kembalikan lukisan ini. Tapi sayang, ia tidak lagi tinggal di rumah neneknya. Tetapi ia sudah pulang ke rumah orang tuanya setahun yang lalu.
Tidak terasa hari sudah mulai siang aku pun harus berangkat ke sekolah, tiba-tiba neneknya bertanya padaku,Kamu berangkat sekolah apa gak?” Aku pun menjawabnya ”Iya, aku mau berangkat sekolah”. Nenekpun menjawab sambil duduk di kursi ruang makan “Ya sudah kalau begitu cepat berangkat, sudah siang. Ton, antar adikmu berangkat sekolah”, bilang nenek pada kak Anton. “Ya bentar lagi”, sahut kak Anton. Aku pun agak mendesak kak Anton agar lebih cepat karena hari sudah semakin siang. “Lama banget sih, ayo sudah siang ni…?”.
Iya-iya sabar sedikit kenapa sih?” jawab kak Anton sambil tergesa-gesa.
Akupun berangkat sekolah dan diantar kakakku. Setelah tiba di sekolah aku pun langsung menuju kelas dan menemui teman-temanku. Ternyata sudah banyak yang datang. Tidak lama kemudian belpun berbunyi tanda pelajaran akan segera dimulai, pak Andi pun masuk ke kelas dan memberi tugas melanjutkan merangkum PPKN minggu lalu.
“Melanjutkan merangkum minggu lalu”, kata pak Andi.
Dua jam telah berlalu bel pun telah berbunyi itu menandakan ganti pelajaran. Pak Andi pun keluar kelas dari kelas kami.
Aku berpikir apakah aku harus membuang lukisan itu apa tidak, tidak sengaja aku melamun dan tidak mendengarkan guru menerangkan pelajaran. Tiba-tiba ada yang mengagetkanku dari belakang. “Hei mikirin apa hayo…???” ternyata Atus mengagetkanku dari belakang. Aku pun menjawab pertanyaannya dengan agak gugup. “Anggap mikirin apa-apa”.
“Jangan bohong deh, kelihatan dari mata kamu???” bantah Atus.
“Sss... jangan berisik kalau nanti pak Slamet tahu nanti dimarahi lho???” sahut Nining.
“Iya-iya”, jawabku dengan agak kesal.
Satu jam telah berlalu bel pun berbunyi itu menandakan waktunya istirahat pun telah tiba. Pak Slamet pun keluar dari kelas kami dan mengucapkan salam kami pun menjawab salam Pak Slamet.
Saat istirahat, aku, Sandy, Atu, Dita dan Eli bersama-sama pergi ke kantin membeli makanan ringan. Setelah selesai membeli makanan ringan kami kembali ke kelas. Tiba-tiba Atus bertanya padaku tentang kejadian tadi pagi ketika kami hanya berdua di kelas.
“Fi, emangnya kamu tadi mikirin apa?? Kalau ada masalah cerita dong, mungkin saja aku bisa bantu “tanya Atus dengan serius.
“Sebenarnya aku bingung, apakah aku harus membuang lukisan itu atau tidak, karena aku tidak suka lukisan itu “ aku pun menjawab.
“Memangnya kenapa dengan lukisan itu” tanya Atus.
“Sebenarnya tidak kenapa-kenapa tapi aku cuma gak suka”.
“Apakah lukisan itu jelek?”
“Tidak juga, rasanya aku ingin sekali membuang lukisan itu, tapi tidak mungkin aku membungnya karena lukisan itu pemberian dari sahabat lamaku. Menurut kamu gimana???”
“Jangan dibuang, karena lukisan lukisan itu sangat berarti bagi sahabat kamu?”
“Kenapa aku tak boleh membuangnya?“ jawabku agak serius.
“Karena lukisan itu dari sahabat kamu makanya kamu harus bisa menjaga lukisan itu”, kata Atus.
“Kan aku tidak suka lukisan itu?
“Begini ya Fi.? Kan kamu dikasih barang/lukisan sama sahabat kamu itu, kamu pun harus bisa menjaga barang itu dengan baik, jangan malah kamu buang walaupun lukisan itu jelek, bagus atau bukan tipe kamu. Karena barang/omongan yang dikasih kepada kita, itu merupakan amanah yang harus dijaga begitu Fi…”, nasihat Atus.
“Oh ia aku ngerti sekarang, berarti aku harus menjaga barang itu dengan baik.
“Ia Fi..”
“Terima kasih atas sarannya” aku pun berterima kasih pada Atus karena dia aku baru sadar akan hal itu. Aku sangat merasa bersalah karena aku sudah hampir membuang lukisan itu.
“Iya sama-sama, sebagai teman juga harus saling bantu” jawab Atus.
Aku sadar kalau aku harus menjaga lukisan itu biarpun lukisan itu bukan tipe aku untuk saat ini. Tapi mungkin suatu hari nanti aku akan suka lukisan itu. Terima kasih Tuhan karena aku tahu jalan keluar permasalahan ini. Melalui temanku sendiri, untunglah aku belum membuang lukisan itu.
Bel berbunyi. Semua teman-teman masuk ke dalam kelas dan pelajaranpun  dimulai. Waktu pulang pun telah tiba. Sampai di rumah, aku langsung ambil wudu’ untuk sholat dzuhur. Setelah sholat dzuhur aku memandangi lukisan itu, aku berjanji tidak akan membuang lukisan itu dan mulai sekarang lukisan itu adalah benda kesayanganku sampai akhir hayatku nanti. Menjelang ashar aku pun langsung mandi dan pergi ke masjid untuk sholat berjamaah. Usai setelah sholat berjamaah ashar aku pun pulang. Semakin lama, hari semakin sore matahari pun kembali ke barat burung-burung berterbangan pulang ke sarangnya dengan tergesa-gesa sambil berkotek memanggil anaknya masuklah ayam ke kandang.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages