Pada hari itu Ayahku, Pak Anton, membeli sepeda motor di daeler Panji
Motor Turen. Pada hari senin Ayahku,
Pak Anton,
membayar kredit sebesar Rp. 250.000,- per bulan. Pada keesokan harinya aku bertanya kepada
Ayahku,“Yah, apakah aku boleh
menaiki sepeda motor Ayah?”
tanya Revan anak Pak Anton. ”Boleh-boleh saja tetapi
kamu tidak boleh sampai jalan raya, ya! ”jawab Pak Anton.
Tetapi pada saat itu aku melanggar apa kata Ayah. Sorenya, aku mencoba
lagi sepeda motorku! Tetapi saat itu aku terjatuh dan kesakitan. Ayah melihat aku
terjatuh di depan rumah.
Pada hari minggu, aku mencoba lagi
sepedaku, tetapi oleh ayahku
tidak boleh.
Pukul 16.34 sore aku
diantar ke puskesmas Painotan.
Pada saat itu aku diobati oleh dokter.
Aku diantar pulang oleh
Ayah dan saat itu aku bertemu teman-temanku di jalan. Mereka sedang bermain
sepeda ontel di jalan manggis sebelah barat. Mereka yaitu Dodi, Anton, Yoji,
sama Rizal. Mereka bermain sepeda ontel dengan sukaria. Mereka bermain sepeda
ontel pukul 13.30 sampai pukul 16.00. Permaninan mereka sangat menyenangkan
tetapi aku tidak boleh bermain oleh Ayahku.
Aku sangat menyesal dengan keadaanku seperti ini.
Saya bertanya kepada Ayah dan Ibu “Bu, Yah,
apakah aku sudah boleh menaiki sepeda motor ini? tanyaku. “Boleh tapi kalau di
jalan raya jangan sampai kamu menaiki dengan cepat sekali, karena banyak
kendaraan. Jika kamu menaiki dengan cepat,
kamu bisa kecelakaan” saran ayah. Pada saat di
sekolah aku memarkirkan sepeda motorku di halaman. Akhirnya pulang sekolah akau mengendarai motor dengan santai dan
aku selamat di jalan raya. Aku membuka pintu rumah dan setelah itu aku membuka
bajuku lalu saya makan siang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar