Pada suatu hari saya membeli ayam di tetangga saya dengan harga Rp. 20.000/ekor.
Saya membeli dua ekor ayam. Setiap pagi dan sore saya beri makan dan minum. Pada
keesokan harinya ayam saya bertelur 12 butir. Saya merasa senang sekali,
setelah lama saya menunggu ayam-ayamku menetas.
“Bu…bu…bu,
ayam saya sudah menetas”, seruku pada Ibu.
“Menetas
berapa?“ tanya Ibu.
“Menetas
10 ekor bu…!” jawab saya sambil memberi makan.
Setelah itu,
saya pergi membeli pakan ayam, dan keesokan harinya saya ambil semua anak ayam
yang sudah menetas dan memberinya
makan. Kemudian saya mandi, ganti baju dan sarapan
pagi. Sesudah sarapan saya berangkat ke sekolah bersama teman-teman saya.
Setelah
sekolah saya pergi bermain bola di halaman sekolah SDN. Tidak terasa sudah
hampir malam, saya pun pulang.
“Bu…
apa ayam saya sudah masuk ke kandang?” tanyaku pada Ibu.
“Belum,“
jawab Ibu
Seketika itu juga saya langsung pergi ke belakang rumah untuk
mencari ayam. Ternyata
ayam saya masih mencari makan. Semua
ayam kumasukkan ke dalam kandang, kemudian
saya pun
mandi.
Pada
malam hari saya bicara kepada Ibu dan bapak saya.
“Pak…Bu…saya
ingin sepatu baru”
“Bapak
sama Ibu belum punya uang” jawab mereka berdua.
Keesokan harinya saya disuruh untuk menjual sebagian
ayam yang aku punya. Saya menunggu orang
yang mau membeli ayam di pinggir jalan. Tidak
berselang lama pembeli ayam itu tiba.
“Pak!”
“Ya…nak
mau apa ya?” tanya si Bapak.
“Saya
mau jual ayam”,
sahut saya.
“Jual
berapa dik?”
“6
ekor saja,”jawabku sambil mengambil ayam.
“Dijual
berapa dik” tanya pembeli
“Rp.
90.000,- Pak,” jawab ku.
“Ya…”
jawab penjual sambil mengambilkan uang.
Setelah
itu saya pergi ke pasar untuk membeli sepatu baru. Berkat ayam-ayam ini, saya diberi kemudahan
untuk membeli sepatu baru sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar