Buku Pelajaran - Dendik Steriakian - Puisi dan Cerpen

Kumpulan Puisi dan Cerpen Karya Anak Bangsa

Breaking

Kamis, 15 November 2018

Buku Pelajaran - Dendik Steriakian



Suatu malam ketika pukul 19.00  di saat aku mau mengemas buku pelajaran yang akan aku bawa besok ke sekolah, aku berjalan mendekati meja belajar dengan hati yang senang Aku mulai memasukkan satu per satu buku yang akan aku bawa besok ke sekolah. Di saat aku menghitung buku yang ada di atas meja, ada satu buku yang hilang. Suasana hatiku mulai berubah, aku mulai mencari buku pelajaran itu dengan suasana hati yang panik. Aku bertanya pada mama dengan suasana hati yang sangat panik, “Ma, Mama tahu tidak buku pelajaran yang saya letakkan di atas meja…?
Mama tidak tahu, jawab mama. Setelah menjawab pertanyaan saya mama berkata lagi, “Mungkin dibuang nenekmu, Nak.“ Kepanikanku semakin menjadi-jadi. Aku sangat penasaran apakah bukuku memang dibuang atau tidak. Untuk memastikan, aku bertanya kepada nenek, “Nek, Nenek tau gak buku pelajaran yang ada di atas meja…? Apakah Nenek membuangnya…?
Tidak…Nenek tidak pernah memegang buku di atas meja apalagi membuangnya”, jawab nenek.
Setelah itu aku kembali lagi mencari buku pelajaran yang hilang itu. Aku berjalan ke sana ke mari untuk mencari buku itu. Aku cari di atas meja, di bawah kursi tetapi tidak ada hasilnya, aku berkata-kata dalam hati, mungkin di kamar karena kemarin aku belajar di kamar. Kemudian aku beranjak lari menuju kamar, aku cari di atas kasur, di bawah bantal, di bawah kasur, di tumpukan baju, di dalam almari, tetapi tidak ada hasilnya. Kemudian aku berjalan menuju ruang tengah dengan berkata-kata di dalam hati (mungkin ada di ruang tengah karena di ruang tengah banyak buku, mungkin tercampur dengan buku-buku yang lain di dalam almari).
Sesudah sampai di ruang tengah aku mulai mencari buku pelajaran itu, dengan gigih aku mencari buku pelajaran di almari buku. Sesudah beberapa menit aku mencari buku itu tidak membuahkan hasil. Aku sangat lelah dan aku juga hampir putus asa mencari buku itu, aku juga sempat berpikir untuk membeli buku lagi, tetapi karena catatan-catatan penting yang ada di dalam buku itu lagi. Tidak terasa malam semakin larut lagi pula aku sudah agak merasa lelah. Mama juga sudah menyuruh aku untuk tidur. Aku sangat ingin sekali bisa tidur tetapi ada suatu hal yang mengganggu di dalam hati saya yaitu rasa takut tidak bisa menemukan buku itu lagi dan rasa cemas dimarahi oleh guru di sekolah.
Karena tidak bisa tidur aku mencari buku itu dengan cara bertanya pada teman-teman sekelasku lewat ponsel. Aku mencoba menelpon satu per satu teman kelasku, tetapi satu teman saya yang dapat dihubugi bernama Irfan dan ketika telfon saya diangkat oleh Irfan saya mengucapkan, “Assalamualaikum”. Kemudian tidak lama lagi Irfan menjawab, “Wa’alaikum salam. Ada apa, Den, kok tumben kamu telfon aku, tanya Irfan.
Aku mau tanya apakah kamu tahu buku pelajaran yang kita pelajari kemarin, tanyaku. Irfan menjawab, “Tidak tahu”.
“Oh ya sudah, assalamualaikum, kataku mengakhiri pembicaran. “Wa alaikum salam, jawab Irfan. Karena sangat kecapekan akhirnya aku tertidur…!
Ketika terbangun dari tidur, aku melihat ke luar jendela, ternyata mahahari sudah ada di arah timur, aku terus bergegas mandi setelah mandi beberapa menit, aku terus memakai seragam dan sepatu. Aku memakai sepatu sambil terus mencari kembali bukuku yang hilang. Di saat aku mencari buku itu kakakku keluar dari kamarnya dan pada saat itu juga aku menanyakan kepada kakakku tentang buku yang hilang itu, “Kak, Kakak tahu ngak bukuku yang kira-kira hilang kemarin…?
Kakak menjawab, “Iya aku melihat buku yang kamu maksud, aku letakkan di dalam laci, karena kemarin aku melihat buku itu berada di lantai. Kemudian aku lihat ke dalam laci, ternyata buku itu di situ. Ternyata buku yang mulai kemarin aku cari, berada di dalam laci dan aku berjanji akan selalu mengembalikan ke tempatnya setelah aku pakai.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages