Suatu malam ketika pukul 19.00 di saat aku mau mengemas buku pelajaran yang
akan aku bawa besok ke sekolah,
aku berjalan mendekati meja belajar dengan hati yang senang Aku mulai memasukkan
satu per satu
buku yang akan aku bawa besok ke sekolah.
Di saat
aku menghitung buku yang ada di atas
meja, ada satu buku yang hilang.
Suasana hatiku mulai berubah, aku mulai mencari buku pelajaran itu dengan
suasana hati yang panik. Aku
bertanya pada mama dengan suasana hati yang sangat panik,
“Ma, Mama tahu
tidak buku pelajaran yang
saya letakkan di atas meja…?”
“Mama tidak tahu”, jawab mama. Setelah
menjawab pertanyaan saya mama berkata lagi, “Mungkin
dibuang nenekmu, Nak.“
Kepanikanku semakin
menjadi-jadi. Aku
sangat penasaran apakah bukuku memang dibuang atau tidak. Untuk
memastikan, aku bertanya kepada nenek, “Nek, Nenek tau gak buku pelajaran yang
ada di atas meja…? Apakah Nenek membuangnya…?”
“Tidak…Nenek tidak
pernah memegang buku di atas
meja apalagi membuangnya”, jawab nenek.
Setelah itu aku kembali
lagi mencari buku pelajaran yang hilang itu.
Aku berjalan ke sana ke mari untuk mencari buku
itu. Aku cari di atas meja, di bawah kursi tetapi tidak ada
hasilnya, aku berkata-kata dalam hati, mungkin di kamar karena kemarin aku
belajar di kamar. Kemudian aku beranjak lari menuju kamar, aku cari di atas
kasur, di bawah bantal, di bawah kasur, di tumpukan baju, di dalam almari,
tetapi tidak ada hasilnya. Kemudian aku berjalan menuju ruang tengah dengan
berkata-kata di dalam hati (mungkin ada di ruang tengah karena di ruang tengah
banyak buku, mungkin tercampur dengan buku-buku yang lain di dalam almari).
Sesudah sampai di ruang tengah aku mulai mencari buku
pelajaran itu, dengan gigih aku mencari buku pelajaran di almari buku. Sesudah
beberapa menit aku mencari buku itu tidak
membuahkan hasil. Aku sangat lelah dan aku juga hampir putus asa mencari
buku itu, aku juga sempat berpikir
untuk membeli buku lagi, tetapi karena catatan-catatan penting yang ada di
dalam buku itu lagi. Tidak terasa malam semakin larut lagi pula aku sudah agak
merasa lelah. Mama juga sudah menyuruh
aku untuk tidur. Aku
sangat ingin sekali bisa tidur tetapi ada suatu hal yang mengganggu di dalam
hati saya yaitu rasa takut tidak bisa menemukan buku itu lagi dan rasa cemas
dimarahi oleh guru di sekolah.
Karena tidak bisa tidur aku mencari buku itu dengan
cara bertanya pada teman-teman sekelasku lewat ponsel. Aku mencoba menelpon satu per satu teman kelasku,
tetapi satu teman saya yang dapat dihubugi bernama Irfan dan ketika telfon saya
diangkat oleh Irfan saya mengucapkan, “Assalamualaikum”. Kemudian
tidak lama lagi Irfan menjawab,
“Wa’alaikum salam. Ada apa,
Den, kok tumben kamu
telfon aku”,
tanya Irfan.
“Aku mau tanya apakah
kamu tahu buku pelajaran yang
kita pelajari kemarin”,
tanyaku. Irfan menjawab,
“Tidak tahu”.
“Oh ya sudah,
assalamualaikum”,
kataku mengakhiri pembicaran. “Wa alaikum salam”, jawab Irfan. Karena
sangat kecapekan akhirnya aku tertidur…!
Ketika terbangun dari tidur, aku melihat ke luar
jendela, ternyata mahahari sudah ada di arah timur, aku terus bergegas mandi
setelah mandi beberapa menit, aku terus memakai seragam dan sepatu. Aku
memakai sepatu sambil
terus mencari kembali bukuku yang hilang. Di
saat aku mencari buku itu kakakku keluar dari kamarnya dan pada saat itu juga
aku menanyakan kepada
kakakku tentang buku yang hilang itu, “Kak, Kakak tahu ngak bukuku yang
kira-kira hilang kemarin…?”
Kakak menjawab, “Iya aku melihat buku yang kamu maksud,
aku letakkan di dalam laci, karena kemarin aku melihat buku itu berada di lantai.
Kemudian aku lihat ke dalam laci, ternyata buku itu di situ. Ternyata buku
yang mulai kemarin aku cari, berada di dalam laci dan aku berjanji akan selalu
mengembalikan ke tempatnya setelah aku pakai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar