Suatu senja yang cerah seakan membatasi waktu siang
dan malam begitupun dengan detik-detik datangnya waktu sholat magrib dan suara
penyeru umat Islam yang dikumandangkan kepada setiap umat Islam kepada kaum
muslimin maupun muslimat.
Lekas ku bergegas mengambil air wudlu dan segera
mendatangi seruan-seruan adzan. Setapak demi setapak aku berjalan menuju masjid
di ujung jalan.
“Assalamualaikum
mbak Bila”, sapa Anisa yang berjalan di belakang ku.
“Waalaikum
salam, oh Anisa sendiri saja Nis”, sahutku sambil menengok kebelakan.
“Ia
mbak, loh mbak juga sendirian saja”, tanya Anisa kepada Bila.
“Iya
Nis, Abah mana Nis, kok gak kelihatan”.
“Oh
iya mbak, iya Abah ndak bisa ngajar hari ini, tapi tenang saja ada Mas Nisam”.
Jawab Anisa anak pak ustad guru ngaji bila tak dapat hadir saat itu.
“Oh
ya sudah Nis ndak papa, Mas Nizam itu siapa Nis? Kayaknya aku gak pernah dengar
orang yang namanya Nizam di kampung ini”, tanyaku kepada Anisa.
“Udah
nanti mbak Bila akan tau sendiri”, ujar Anisa sambil tersenyum.
Kedua
gadis berkerudung iru beranjak memasuki masjid bersama.
“Subhanallah”,
ujarku dengan hati yang damai saat ku mendengar alunan Adzan yang begitu indah.
“Ada
apa mbak Bila”, tanya Anisa padaku.
“Ya
Allah, mbak Bila ndak pernah mendengar suara adzan seindah ini”, sahutku dengan
rasa bangga.
“Ya
mbak ini suaranya Mas Nizam”, sahut Anisa.
“Subhanallah
alangkah indahnya suara Mas Nizam walau ku tak mengenalnya”, ujarku dalam hari
sambil penuh rasa kekaguman.
“Allahuakbar,
Allahuakbar, Ashaduallailahaillah, Waashaduanna Muhammadarrosulullah
Hayyaalasshola, Hayyaalalfala, Kotghomatisshola, Kotghomatisshola, Allahuakbar,
Allahuakbar, Lailahaillallah”. Suara iqomapun dikumandangkan Maz Nizam dengan
lantang.
Beberapa
saat kemudian…..
Assalamualaikum
Wr. Wb... Assalamualaikum Wr. Wb... kitapun jamaah melanjutkan dengan membaca
dzikir dan disambung dengan do’a setelah sholat berjamaah…
“Dipersilahkan
kepada para murid jika ingin mengikuti acara mengaji, sebelumnya saya minta maaf,
karena Abah Qoirul tidak dapat hadir karena keadaan yang tidak menginginkan”.
Tegas Maz Nizam.
“Sebelumnya
saya ingin memperkenalkan diri
My
name is Nizam
نزم شميي إ
I
am from in Surabaya سوربايا انامن
Ujar
Mas Nizam sambil memperkenalkan diri.
“Ya
Allah sungguh pandainya orang ini bisa dalam segala hal, andai saja aku dapat
melihat sedikit saja rupawan wajahmu”. Ujarku dalam hati.
Setelah seorang pria yang bernama
Nizam itu memperkenalkan diri tirai pembatas antara laki-laki dan perempuan
itupun dibuka perlahan oleh Maz Nizam sambil memberikan salam.
Semua
murid menjawab dengan bersamaan
“Waalaikum
salam Wr. Wb.
Aku
terdiam sejenak dan terpesona akan seorang pria yang memakai baju kokoh putih
itu.
Ya Allah sungguh indah rupanya tak
hanya parasnya yang indah namun hatinya bagai kertas putih tanpa noda.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar