Pada malam hari sekitar pukul 21.00. Pak Herman dan
Ibu Santi sedang pergi ke rumah
sakit untuk menjenguk saudaranya yang bernama Sodik, yang sedang sakit. Setelah cukup lama
berada di rumah sakit Ibu Santi pun
berpamitan pada saudaranya dan Ibu Santi pun keluar dari rumah sakit.
Setelah keluar dari rumah sakit, sekitar pukul 22-30
ada seorang kakek yang menjual guci yang sangat bagus dan guci itu tinggal 1
biji. Karena sangat bagus dan guci itu akhirnya Ibu Santi membelinya. Guci dari
kakek itu seharga Rp. 45.000,00.
Setelah membeli guci itu Ibu Santi langsung
berpamitan kepada penjual guci itu dan setelah di rumah guci itu di taruh di
tempat yang cocok. Setelah sampai di rumah pukul 23.00. Doni dan kakaknya sudah
tidur, Ibu Santipun bingung menaruh guci
itu di tempat yang cocok, dan Pak Andik pun mempunyai usul
untuk menaruk guci itu di ruang tamu.
Sampai pukul 23.30 Pak Herman dan Ibu Santi tidur. Keesokan harinya guci
yang di taruh di ruang tamu itu
hilang. Waktu guci itu hilang, Doni dan kakaknya masih sekolah.
Pak Herman dan Ibu Santi pun bingung
mencari guci itu ke mana-mana, dan akhirnya guci itu ketemu di kamar mandi. Ternyata
guci itu di bawah Doni saat mandi dam Doni pun lupa tidak mengembalikan
ke tempatnya semula. Ibu
Santi tidak lagi meletakkan
guci itu di ruang tamu, karena takut dibawa Doni. Ibu Santi bersaran
untuk menaruh guci itu di kamarnya.
Setelah beberapa hari
ditaruh di kamarnya, guci itu terjaga dengan baik. Setelah
di taruh di kamarnya beberapa hari,
Doni kembali menemukan guci yang disembunyikan Pak Herman
dan Ibu Santi, guci itu dipakai main
oleh Doni dan teman-temannya.
Waktu guci itu dibuat mainan Doni, ternyata tanpa sepengetahuan Doni
guci itu disembunyikan oleh teman-temannya. Doni bertanya kepada teman-temannya
di mana guci itu disembunyikan, dan mereka menjawab aku tidak tahu gucimu. Doni pun pulang ke rumah
dengan wajah ketakutan. Pak Herman dan Ibu Santi di rumah bingung mencari guci
yang sedang hilang itu dan ternyata guci disembunyikan teman-teman Doni. Guci itu dijual ke tetangga sebelah rumah.
Sesampainya di rumah, Doni ditanya Ibu Santi dan
Pak Herman, “di
mana guci itu?”
Doni bilang dengan tidak jujur, Doni bilang,“aku
tidak tau, guci itu ada di mana”.
Herman dan Ibu Santi tidak percaya kalau guci itu hilang kalau
tidak ada yang mengambilnya. Dan setelah Doni pulang, Ibu Santi langsung
menanyakan guci itu pad Doni “apa kamu tau guci yang Ibu Santi taruh
di kamar” dan Doni bicara “aku tidak tau”.
Dan Pak Herman bingung sendiri mencari guci itu di mana-mana.
Pak Herman sampai lelah mencari guci itu, dan Ibu Santi sangat
gelisah karena Ibu Santi kehilangan guci yang disayangnya. Kakak Doni juga berusaha mencari
guci yang hilang itu, dan Doni di kamar sendirian.
Ia menangisdan tampak
gelisah. Doni ingin berbicara pada Ibu Santi tapi ia masih merasa ketakutan
untuk berbicara pada Ibu Santi.
Akhirnya Ibu Santi
bercakap-cakap dengan
tetangganya. Ibu berkata bahwa guci Ibu Santi yang disukai itu hilang, dan Ibu
Santi melihatnya guci itu di ruang tamu tetangganya. Ibu Santi bertanya
kepada tetangganya dari mana Ibu dapat guci itu dan tetangga Ibu Santi bilang
“aku mendapatkan dari teman-taman
anak Ibu”. Ibu Santi bilang “Bu, itu guci saya yang
hilang kemarin, bolehkah aku mengambil kembali guci itu, Bu?” Ibu itu bilang,“boleh, Bu lain kali jaga guci itu dengan
baik ya Bu”. “Terima kasih, akan kusimpan
guci ini dengan baik”, kata bu Santi. Ibu
Santi pulang ke rumahnya dengan perasaan bahagia, sampai di rumah ibu santi
bertanya pada Doni “Don, Ibu sudah mendapatkan guci itu, kamu jujur saja, kamu
yang mengambil guci itu, gak apa-apa ibu tidak akan marah. Doni berbicara,”ya
Bu, aku yang mengambil guci itu, maaf ya Bu, aku sudah mengambil guci itu tanpa
sepengetahuan Ibu”, dan Ibu bicara “ya Ibu maafkan tapi lain kali jangan
diulangi lagi ya”. Doni bicara “ya bu”.
Doni sangat merasa senang karena Ibu Santi tidak
memarahi Doni
lagi, dan Ibu Santi bilang pada Pak Herman kalau gucinya sudah ketemu. Pak
Herman merasa senang karena sudah ketemu dan Ibu Santi pun harus menjaganya
dengan baik dan satu lagi kuberi nama Guciku Hilang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar