Di
pagi hari aku belajar menari karena aku mau lomba, diwaktu aku latihan menari
nenek dan mama senang, karena waktu muda dulu mama juga penari, mama mencarikan
kostum untukku dan nenek mencari selendang tariku. Di hari pas waktu aku mau
tampil nenek dan mamaku mendadaniku, setelah selesai aku masuk kamar dengan
nenek disitu aku mengambil selendang, lalu papa masuk kamarku dan tiba-tiba
papa marah kepadaku entah apa sebabnya aku belum tahu, aku dimarahinya hingga
aku hampir saja tidak ikut lomba, aku menangis di kamar karena papa memarahiku
Ketika
aku keluar dari kamar, mama bilang papa marah itu sebabnya aku dipanggilnya
tetapi aku tidak mendengarkan dan aku juga membuat keributan di rumah membuat
mama tidak mengurus papa duluan. Waktu itu papa mau berangkat kerja dan mama
mengurusiku terlebih dahulu dan tidak mengurus papa yang hendak pergi bekerja.
Akhirnya aku berangkat lomba, aku berangkat bersama nenek, aku berlomba hanya
diantarkan nenek saja, pas waktu itu aku terlambat jadi aku diundur untuk
urutan tampilku, tapi aku tidak apa-apa aku terlambat untungnya aku hanya
diundurkan bukan di dies.
Sambil
menunggu tampilan menari yang lain aku berbicara pada nenek “nenek kalau
seandainya aku tidak bias menjadi juara gimana?” nenek membalas, “jangan
khawatir nak kamu pasti bisa, menang atau tidak itu suatu hal yang biasa di
perlombaan, jangan bersedih kamu pasti bias kok, nenek mendoakan yang terbaik”
Jawabku, “iya nek, aku tidak patah semangat kok, aku tidak akan mengecewakan
mama, papa, dan nenek”.
Setelah
itu nomer urutanku disebutkan dan aku dipersilahkan untuk menaiki panggung dan
tampil. Sebelum aku naik panggung aku selalu berdoa dahulu dan meminta restu
pada nenekku terlebih dahulu, lalu aku tampil membawakan tari remo dari Malang.
Setelah tampil aku di atas panggung ditanyai tentang berapa lama saya
mempelajari tarian ini dan belajar dimana saya menjawab, “umur saya enambelas
tahun, hanya satu minggu dan belajar dirumah,” setelah ditanyai aku turun dari
panggung dan kembali ke nenek. Selama menunggu penari yang lain tampil dan
pengumuman pemenang aku bertemu teman sanggar saya dulu. Kami menceritakan
tentang dahulu, waktu kita masih berkumpul dahulu dan bertanya-tanya kabar.
Aku
juga ketemu guru sanggar saya dahulu dan berbincang tentang masalah di sanggar
kata guru sanggar saya, “erin kenapa kamu tidak ke sanggar lagi?” jawabku, “hehe…maaf pak saya sibuk sekolah,”
kata pak guru, “ikut lagi dong rin, tidak ada lagi muridku sehebat kamu satu
sampai dua hari kamu langsung bisa” jawabku, “insyaallah pak”. Pengumuman juara
akan dibacakan, aku dan nenek berdoa agar aku yang menjadi pemenangnya, juara 1
didapatkan oleh penari dari Jawa Tengah, juara 2 didapatkan oleh aku, juara 3
didapatkan oleh penari dari Surabaya, disitu aku dan nenek melakukan sujud
syukur. Aku merasa senang sekali bahwa aku bisa menjadi juara, setelah
mendapatkan piala dan sertifikat aku disuruh memberi sambutan, pesan atau
motivasi untuk mereka semua. Aku dan nenekku setelah selesai dipeluk oleh
bupati dan lurah, juga pejabat-pejabat lainnya, aku merasa bangga dengan diri
saya sendiri dan juga nenek, mama merekalah yang memberiku semangat dan
dukungan.
Sepulang
dari perlombaan mama dan papa menciumku, mereka merasa senang sekali karena aku
bisa menjadi juara, papa memberiku hadiah dan juga mama memberiku hadiah.
Akhirnya dari situ mama dan papa semakin mendukungku untuk mengembangkan
bakatku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar